JAKARTA - Kebiasaan minum teh pada pagi dan sore hari sudah jadi gaya hidup sebagian orang Indonesia. Teh juga dipercaya punya manfaat kesehatan yang bisa bikin tubuh lebih bugar.
Namun, pada teh celup kamu perlu waspada. Mungkin kamu menganggapnya aman, karena kamu pikir itu cuma kertas tipis khusus yang dicelup air panas.
Faktanya, ada miliaran partikel plastik dari setiap cangkirnya jika kamu masih minum dengan kantong teh celup. Praktisi Bisnis Lingkungan Bangsap menjelaskan, ketika kamu menyeduh teh, partikel kantong teh pun bisa ikut larut ke dalam minumanmu.
“Daun teh dan kantong teh adalah dua hal yang berbeda. Tehnya bisa alami, tapi kantongnya banyak yang bukan sekadar kertas. Ada yang dilapisi polimer sintetis, nilon, PET (salah satu jenis plastik yang digunakan untuk botol minuman dan kemasan makanan) atau polypropylene (material yang diproduksi industri kimia untuk plastik),” ujar Bangsap lewat akun Instagram pribadinya.
Nah, saat kena air panas, lapisan sintetis itu bisa terurai dan ikut masuk ke dalam air seduhan. Lapisan itu memang tak tampak, kamu tak melihat, rasakan atau cium baunya.
Studi McGill menemukan, kantong teh yang diseduh 95 derajat bisa melepas 11,6 miliar mikroplastik dan 3,1 miliar nanoplastik dalam satu cangkir.
“Jadi yang kamu kira kebiasaan sehat, ternyata bisa membawa beban yang tersembunyi dari kemasannya. Kalau di green business ini contoh klasik hidden cost,” katanya.
Ia melanjutkan, produk yang terlihat bersih dan alami ternyata punya risiko tersembunyi kalau materialnya tidak dipilih dengan benar. Bukan dari isinya tapi dari bungkusnya.
“Menilai sehat atau tidaknya teh celup tidak bisa dari rasa atau manfaatnya saja, tapi juga harus melihat dari bahan kantongnya,’ tutur Bangsap.
(Agustina Wulandari )