JAKARTA – Nama Dwi Sasetyaningtyas menjadi sorotan publik usai beredarnya video yang memuat pernyataannya terkait status kewarganegaraan anak-anaknya. Dalam video tersebut, ia menyebut kalimat “cukup saya yang WNI, anak-anak jangan,” sembari memperlihatkan paspor asing milik sang anak.
Pernyataan tersebut menuai beragam respons di media sosial dan memicu perdebatan di ruang publik. Dwi Sasetyaningtyas diketahui merupakan salah satu alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknik dan energi. Ia menyelesaikan studi sarjana (S-1) Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di Belanda melalui program beasiswa LPDP. Tyas menempuh studi di Delft University of Technology (TU Delft) pada program Sustainable Energy Technology dan dinyatakan lulus pada 31 Agustus 2017.
Delft University of Technology dikenal sebagai salah satu institusi teknologi terkemuka di Eropa, khususnya dalam bidang teknik dan inovasi energi berkelanjutan. Latar belakang akademik tersebut menjadi fondasi karier Tyas di sektor energi dan isu keberlanjutan.
Sepulang dari Belanda, Tyas aktif di bidang lingkungan dan kewirausahaan sosial. Pada 2018, ia mendirikan Sustaination, sebuah platform yang berfokus pada edukasi gaya hidup ramah lingkungan, kampanye keberlanjutan (sustainability), serta kurasi produk ramah lingkungan.
Sustaination awalnya berbasis di Belanda sebelum berkembang menjadi platform digital dan toko daring di Indonesia. Platform tersebut kerap mengangkat isu pengurangan plastik sekali pakai, promosi produk lokal berkelanjutan, serta edukasi sustainability bagi keluarga muda.
Selain menjalankan usaha sosial, Tyas juga dikenal aktif sebagai pembicara dalam berbagai forum yang membahas isu keberlanjutan dan kewirausahaan sosial, baik di dalam negeri maupun di kalangan diaspora Indonesia.
Perkembangan polemik terkait pernyataannya masih menjadi perhatian publik, termasuk respons dari berbagai pihak terhadap statusnya sebagai alumni program beasiswa pemerintah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)