Makna Filosofis di Balik Ritual Cuci Rupang dan Nyala Lilin Jelang Perayaan Imlek

Niko Prayoga , Jurnalis
Senin 16 Februari 2026 20:08 WIB
Makna Filosofis di Balik Ritual Cuci Rupang dan Nyala Lilin Jelang Perayaan Imlek. (Foto: Niko Prayoga/Okezone)
Share :

JAKARTA - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada 17 Februari 2026, suasana di berbagai vihara mulai terasa dengan banyaknya persiapan yang dilakukan. Salah satunya adalah Cuci Rupang, yakni tradisi membersihkan patung dewa-dewi di kelenteng yang biasa dilakukan sebelum Imlek.

Seperti yang dilakukan di Kelenteng Toasebio, para pengurus telah melaksanakan Cuci Rupang sejak satu minggu sebelum Imlek. Cuci Rupang bukan sekadar bersih-bersih patung, melainkan ritual sakral yang menyentuh sisi spiritual. Tradisi ini menjadi wujud penghormatan mendalam bagi umat yang akan beribadah.

Karyawan Bagian Pelayanan Umat Kelenteng Toasebio, Hendro Budi Santoso, mengatakan bahwa kebersihan tempat ibadah, termasuk rupang, merupakan fondasi utama untuk menciptakan suasana doa yang khusyuk serta menyambut umat dengan hati yang tenang.

"Kalau secara filosofi, untuk menyambut Imlek memang kita wajib bersih-bersih supaya tempat terlihat nyaman dan bersih. Apalagi ini tempat ibadah, wajib bersih agar umat yang datang berdoa dan beribadah menjadi nyaman," kata Hendro.

 

Ia menjelaskan bahwa ada tata cara khusus dalam proses pencucian rupang. Proses tersebut harus diawali dengan ritual doa sebagai bentuk permohonan izin kepada para dewa-dewi. Selain itu, air yang digunakan adalah air bunga.

"Kalau untuk memandikan rupang, pertama harus ada ritual dulu. Kita berdoa seperti meminta izin kepada dewa-dewi yang ada di sini. Setelah berdoa, baru kita memandikan rupang dengan air bunga," ucapnya.

Hendro menegaskan bahwa penggunaan bunga tidak berkaitan dengan hal mistis. Air bunga digunakan untuk memberikan sentuhan wewangian alami pada rupang.

"Bukan semata-mata bunga harus yang macam-macam atau dikaitkan dengan hal mistis. Tujuannya supaya patung dewa-dewi ini bersih dan juga wangi," tegas Hendro.

Setelah dimandikan dengan air bunga, setiap rupang kemudian dilap hingga kering menggunakan kain bersih sebelum diletakkan kembali di altar. Hal tersebut membuat rupang tampak lebih cerah dan memudahkan umat untuk memandang sosok dewa-dewi yang mereka muliakan.

"Supaya umat yang datang bisa melihat rupang atau patung dewa-dewi yang ada di sini dengan lebih jelas, lebih cerah, dan lebih bagus," jelasnya saat diwawancarai, Minggu (15/2/2026).

Sementara itu, tradisi menyalakan lilin pada malam Sacapme atau malam perayaan Imlek memiliki makna filosofis sebagai simbol doa dan harapan bagi setiap keluarga agar langkah mereka selalu diterangi kebaikan.

"Lilin memiliki makna agar umat dan keluarganya diberikan penerangan dalam kehidupan, kelancaran rezeki, dan perlindungan," pungkas Hendro.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya