JAKARTA - Viral kasus meninggalnya seorang siswa kelas 4 Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang meninggalkan surat sebelum mengakhiri hidup. Peristiwa ini menjadi perbincangan, terutama soal kesehatan mental anak. Berbagai dugaan penyebab pun muncul, salah satunya adalah depresi pada anak yang tidak terdeteksi atau tidak selalu terlihat.
Tidak hanya bisa dialami oleh orang dewasa, para orang tua harus tahu kalau anak-anak pun bisa mengalami depresi. Karena ada kemungkinan anak bisa mengalami kecemasan seiring bertambahnya usia. Dulu, anak-anak dianggap terlalu muda untuk mengalami depresi. Namun, penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak bisa mengalaminya, meski apa yang dialami mereka berbeda dari orang dewasa.
Penelitian menemukan bahwa depresi dan kecemasan juga sangat komorbid. Anak-anak kerap didiagnosis dengan gangguan kecemasan dan depresi pada saat yang bersamaan. Anak-anak yang lebih muda cenderung mengalami kecemasan akan suatu bentuk perpisahan. Sementara kecemasan sosial sering terjadi seiring bertambahnya usia anak.
Menurut penelitian pada buku Deborah Serani Depression and Your Child: A Guide for Parents and Caregivers, sekitar 4 persen anak usia 2 sampai 5 tahun, 5 persen anak usia 6 hingga 12 tahun, dan 11,2 persen remaja berusia 13 sampai 18 tahun mengalami depresi.
Para orang tua bisa peka dengan gejala yang dialami anak. Tanda-tanda kecemasan dan depresi pada anak sendiri meliputi misalnya mudah marah, berperilaku buruk, mengalami ketakutan, kurangnya minat beraktivitas, sulit menambah berat badan, mengalami masalah tidur, sulit bersosialisasi, bermasalah di sekolah, malas untuk pergi ke sekolah, sakit perut, hingga sakit kepala.
Sementara itu, untuk anak usia prasekolah, yaitu menangis berlebihan saat berpisah dari orang tuanya. Kemudian, untuk anak usia sekolah, biasanya anak akan mengeluh sakit perut hingga harus keluar dari sekolah.
Sedangkan anak usia remaja bisa dilihat dari tanda-tanda biasanya mereka menjadi lebih mudah tersinggung, terisolasi dari keluarga dan teman, atau lebih sering mengurung diri di kamar dan memilih tidak mengikuti kegiatan keluarga.
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia, dr Diah Setia Utami, SpKJ, menyebut depresi dapat dialami semua kalangan dan gender, termasuk anak-anak. Orang tua harus memahami kondisi anak dalam situasi apa pun dan tidak membiarkan anak mengalami depresi.
"Gejala depresi pada anak dan dewasa hampir sama. Tapi kalau pada anak agak lain, seperti dia tiba-tiba suka menyendiri, menjauhi teman-temannya, rewel, mudah marah, sering menangis," ujar dr Diah.
Depresi adalah masalah kejiwaan yang dapat menimbulkan gejala psikis. Sejumlah gejala psikis yang muncul akibat depresi pada anak adalah sebagai berikut:
Selain psikis, depresi juga dapat memengaruhi kondisi fisik pada anak. Berikut adalah sejumlah gejala fisik pada anak yang mengalami depresi:
Kelelahan yang dirasa secara terus-menerus.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)