KERAJAAN yang pernah berjaya di bumi Nusantara selalu menarik diulas. Adapun kerajaan tersohor yang pernah bercokol di Nusantara di antaranya ialah Kerajaan Singasari dan Majapahit.
Pararton menjadi salah satu referensi sejarah yang menggambarkan Kerajaan Singasari dan Majapahit. Selain Pararaton, ada kitab kuno Nagarakertagama dan Kakawin Sutasoma, yang juga dikenal menggambarkan referensi sejarah era Singasari dan Majapahit.
Namun terdapat perbedaan antara Pararaton dan Nagarakertagama dalam menggambarkan perjalanan sejarahnya.
Dari sisi waktu misalnya, ketika berbicara penobatan hingga kematian Raja Singasari, Wisnuwardhana ada perbedaan antara yang termaktub dalam Kitab Pararaton dan Nagarakertagama.
Angka tahun penobatan Rangga Wuni atau Wisnuwardhana, dalam Pararaton tidak tertulis jelas. Namun, karena Apañji Tohjaya meninggal pada Saka 1172 atau sekitar 1250 Masehi, dapat diperkirakan bahwa penobatan Rangga Wuni terjadi pada tahun tersebut.
"Sumber lainnya, yaitu Nagarakertagama, menyebut Wisnuwardhana naik takhta menggantikan ayahnya (Anusanatha) yang meninggal pada Śaka 1170 (1248 Masehi)," demikian dikutip Okezone dari buku 'Pararaton: Biografi Para Raja Singhasari - Majapahit'.
Itu artinya, ada selisih dua tahun antara pemberitaan Nagarakeṛtagama dengan Pararaton. Dari sisi tahun kematian pun menurut Pararaton Wisnuwardhana meninggal pada Saka 1194 atau sekitar 1272 Masehi, dengan candi pendarmaan di Jajagu, sedangkan Mahisa Campaka (Narasingha) juga meninggal dan didarmakan di Kumeper, namun tidak dijelaskan tahun berapa.
Mengenai kematian Wisnuwardhana, ada selisih empat tahun antara pemberitaan Nagarakertagama yang menyebut 1268 dengan Pararaton yang menyebut 1272.