Peneliti Tengah Kembangkan Teknik Pemeriksaan TB Hanya dengan Embusan Napas

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Selasa 06 Agustus 2024 14:00 WIB
Peneliti kembangkan deteksi TB hanya dengan embusan napas. (Foto: Freepik.com)
Share :

TUBERKULOSIS masih menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia, bahkan sebagian negara di dunia. Untuk dapat menanganinya dengan baik maka pasien harus didiagnosis dini supaya cepat diobati dan tidak menular ke orang lain disekitarnya. Teknik diagnosis dini berpotensi mendapatkan hasil yang akurat dan lebih mudah.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan sudah sejak lama para pakar kedokteran mencari berbagai upaya diagnosis dini tuberkulosis. Tercatat bahkan pada 1942, tepatnya 82 tahun yang lalu sudah ada tulisan ilmiah berjudul 'The early diagnosis of pulmonary tuberculosis'.

Tulisan ilmiah ini dipublikasi oleh 'South African Medical Journal - SAMJ' Vol. 16, No. 21 November 1942. Tulisan tersebut membahas peran ronsen toraks dalam diagnosis tuberkulosis.

"Waktu itu tentu kita belum merdeka, tapi memang di negara lain sudah banyak tulisan-tulisan di jurnal ilmiah kedokteran," kata Prof Tjandra, dalam siaran pers yang diperoleh Okezone, Selasa (6/8/2024).

Bahkan, penemuan hasil penyebab tuberkulosis oleh Robert Koch juga sudah dipublikasi di jurnal ilmiah 'Berliner Klinische Wochenschrift' pada 10 April, 1882, hampir dua abad yang lalu. Terkait tentang diagnosis dini tuberkulosis, bulan lalu terdapat artikel ilmiah berjudul 'Exploring the use of exhaled breath as a diagnostic tool for pulmonary TB'.

Artikel ilmiah tersebut dipublikasi pada Jurnal ilmiah 'International Journal of Tuberculosis and Lung Disease' edisi 1 Juli 2024. Sesuai judulnya maka artikel ilmiah ini memang membahas berbagai kemungkinan mendiagnosis TB dengan embusan napas saja. Tentu ini adalah suatu upaya yang amat baik jika kedepannya dapat digunakan secara luas.

"Memang sejak dekade belakangan ini sudah banyak dikaji tentang potensi mendiagnosis TB dengan embusan napas saja, sebagai alternatif dari pemeriksaan dahak dan atau foto ronsen toraks yang belakangan ini dilakukan dengan pendekatan 'artificial intelligence' pula," tuturnya.

Prof Tjandra mengatakan meski sejauh ini penelitian-penelitian embusan napas belum ditranslasionalkan ke praktek klinik tetapi memang sudah banyak kemajuan. Penelitian yang berpotensi menjanjikan, setidaknya dalam tiga aspek, yaitu diagnosis, estimasi penularan dan pemantauan respon pengobatan.

"Peran diagnosis melalui embusan napas juga pernah dibahas waktu pandemi Covid-19, walau memang kemudian tidak berkembang luas. Tulisan di 'International Journal of Tuberculosis and Lung Disease' pada Juli 2024 ini menyatakan bahwa di waktu mendatang, cara diagnosis dengan embusan napas akan meningkatkan pengetahuan.

Setidaknya ada dua hal yang bisa dideteksi menggunakan teknik embusan napas ini. Pertama adalah penyakit infeksi paru dan saluran napas serta respon imun pasiennya (host-immune responses).

(Leonardus Selwyn)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya