JAKARTA - Tubuh yang sehat adalah keinginan banyak orang. Tubuh yang sehat akan membawa keuntungan yang kembali kepada diri sendiri.
Ini seperti produktivitas yang terjaga, mencegah penyakit di kemudian hari. Juga, menjadi sehat berarti menikmati hidup dengan tenang dan nyaman. Lebih lagi biaya kesehatan juga semakin tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya.
Biaya kesehatan di Asia terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Indonesia juga tidak menjadi pengecualian.
Menurut Medical Trend Summary Mercer Marsh Benefits, inflasi medis di Indonesia meningkat 13,6 persen pada 2023 dari sebelumnya 12,3 persen. Angka ini pun lebih tinggi dari rata-rata inflasi kesehatan di Asia yang 11,5 persen.
Bagi sebagian orang, inflasi medis bukan menjadi masalah. Namun bagi sebagian lainnya, biaya kesehatan dapat mengganggu keseimbangan keuangan mereka. Lebih lagi, biaya kesehatan adalah biaya yang sulit diprediksi besarannya.
Apa itu Inflasi Medis?
Istilah inflasi medis mengacu pada kenaikan biaya perawatan kesehatan secara terus menerus dari tahun ke tahun. Dalam definisi lain, inflasi medis peningkatan biaya pendukung medis. Ini mencakup biaya perawatan, biaya peralatan, dan lain sebagainya.
Menurut Mercer Marsh Benefits, inflasi medis adalah kenaikan biaya unit per unit untuk sebuah layanan atau barang yang sama.
Penyebab Inflasi Medis
Setidaknya, terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab inflasi medis. Adapun, faktor penyebab tersebut adalah:
1. Kenaikan Biaya Perawatan
Penyebab pertama dari adanya inflasi medis adalah naiknya biaya perawatan. Biaya perawatan sendiri adalah Biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit. Ini dapat meliputi rawat jalan, rawat inap, dan biaya rehabilitasi.
Lebih lagi sejalan dengan pertambahan usia populasi dan meningkatnya kesadaran kesehatan, permintaan akan layanan kesehatan pun ikut naik. Implikasinya, biaya kesehatan menjadi ikut naik.
Selain itu, kenaikan biaya perawatan juga dipengaruhi oleh naiknya biaya produksi yang meningkat. Ini seperti harga obat-obatan, peralatan medis, dan teknologi baru yang canggih biasanya lebih mahal.
2. Tingkat Klaim yang Tinggi
Tingkat klaim yang tinggi dapat mempengaruhi inflasi medis melalui beberapa mekanisme.
Pertama, dapat meningkatkan biaya operasional bagi perusahaan asuransi yang mungkin merespons dengan menyesuaikan premi atau biaya asuransi sejalan dengan komitmen untuk memberikan layanan yang optimal, sehingga menambah beban biaya bagi konsumen.
Selanjutnya, peningkatan klaim bisa mencerminkan permintaan layanan kesehatan yang lebih tinggi yang pada gilirannya dapat mendorong penyedia layanan kesehatan untuk menaikkan tarif layanan dan produk mereka.
Hal ini dapat menciptakan siklus dimana biaya kesehatan menjadi lebih mahal, dan akhirnya, memicu inflasi medis. Namun, hubungan ini merupakan bagian dari sistem yang lebih luas dan kompleks.
Juga, ada faktor-faktor lain seperti biaya administrasi, inovasi teknologi, dan perubahan standar perawatan yang juga berperan dalam menentukan inflasi medis.
3. Kenaikan dan Perawatan Harga Peralatan Kesehatan
Penyebab terakhir dari inflasi medis adalah naiknya harga peralatan kesehatan. Ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan dan kemajuan teknologi dan pengobatan. Sebab, perkembangan teknologi telah meningkatkan kualitas perawatan kesehatan secara signifikan.
Namun, hal ini juga berarti bahwa biaya medis menjadi lebih tinggi untuk memenuhi permintaan akan tenaga kesehatan dan instrumen medis yang berkualitas. Selain itu, perawatan peralatan tersebut juga menjadi penyebab inflasi medis.
Cara Menyikapi Terjadinya Inflasi Medis
Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini? Setidaknya ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk menyikapi inflasi medis.
1. Jaga Kesehatan
Sikap pertama untuk menghadapi inflasi medis tentu adalah menjaga kesehatan. Sebab dengan menjaga kesehatan, tentu mengurangi resiko terkena penyakit di masa depan. Terutama terhadap penyakit-penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung kronis, dan penyakit lainnya.
Lantas bagaimana cara menjaga kesehatan. Untuk dapat menjaga kesehatan, caranya cukup mudah untuk ini dilakukan. Cukup dengan memulai pola hidup sehat dan mulai berolahraga setidaknya 20 menit sehari.
2. Miliki Proteksi Kesehatan
Cara kedua yang dapat dilakukan untuk menghadapi inflasi medis adalah memiliki proteksi kesehatan dalam bentuk asuransi kesehatan.
Sebab, asuransi kesehatan seperti yang dimiliki Prudential Indonesia sebagai salah satu perusahaan asuransi yang dapat Anda dan keluarga andalkan untuk dapat membantu cover biaya kesehatan yang tinggi di masa depan.
Sehingga, biaya kesehatan yang tinggi tidak begitu memberikan pengaruh terhadap keuangan secara keseluruhan.
3. Kelola Dana Darurat
Pengelolaan dana darurat menjadi dasar dalam rencana keuangan. Kendati sudah memiliki asuransi yang sudah melakukan cover terhadap biaya kesehatan. Ini karena dana darurat dapat digunakan sewaktu-waktu jika memerlukan biaya yang harus dikeluarkan untuk keperluan mendesak.
Dampak dari Inflasi Medis
Inflasi medis memberikan pengaruh luas. Pengaruh yang diberikan inflasi medis tidak hanya berpengaruh terhadap aspek kesehatan saja. Tetapi, inflasi medis berpengaruh terhadap hal-hal lain.
Inflasi medis tentu memberikan pengaruh signifikan terhadap biaya kesehatan. Pengaruh inflasi medis pada aspek pelayanan kesehatan tertentu menyebabkan harga atau biaya.
Ada beberapa aspek dalam biaya kesehatan yang terpengaruh oleh adanya inflasi medis. Pertama, inflasi medis berpengaruh terhadap biaya kunjungan dan konsultasi dokter. Aspek berikutnya yang terpengaruh inflasi medis adalah biaya obat.
Selanjutnya, biaya rawat inap dan prosedur menjadi biaya berikutnya yang terpengaruh inflasi medis. Terakhir, inflasi medis berpengaruh terhadap harga atau biaya yang digunakan untuk alat kesehatan dan teknologi kesehatan.
Apakah Inflasi Medis Akan Terus Terjadi?
Menurut pendapat sebagian orang inflasi medis adalah hal yang tidak dapat terhindarkan. Sebagian berpandangan jika inflasi medis tidak dapat dikurangi dan hilang.
Maka dari itu, cara yang dapat dilakukan adalah bersiap untuk menghadapi inflasi medis. Persiapan yang matang dapat mengurangi risiko yang mungkin terjadi akibat kenaikan biaya kesehatan.
Inflasi medis dapat diatasi dengan memiliki perencanaan keuangan yang baik. Disamping juga menjaga kesehatan diri sendiri ataupun orang-orang terdekat.
(Agustina Wulandari )