Jajan Anak Sekolah Mengandung Banyak MSG, Kenali Bahayanya bagi Kesehatan

Wiwie Heriyani, Jurnalis
Kamis 11 Juli 2024 16:00 WIB
Bahaya konsumsi terlalu banyak MSG bagi kesehatan. (Foto: Freepik.com)
Share :

HAMPIR seluruh jenis jajanan di Indonesia mengandung MSG alias Monosodium Glutamat. Salah satunya yakni di lingkungan sekolah. Masuk masa sekolah, anak-anak tentu tak bisa terhindar dari segala jenis jajanan yang mengandung banyak kandungan MSG.

MSG sendiri banyak digunakan sebagai penyedap rasa dalam masakan di kehidupan sehari-hari. Namun, mengonsumsi MSG sendiri memiliki batasan. Terlebih bagi kalangan anak-anak. Lantas, apa bahayanya jika anak terlalu banyak mengonsumsi jajanan mengandung MSG?

Garam sodium dan asam L-glutamat adalah komponen suatu asam amino non esensial pada MSG yang bersifat larut dalam air dan akan berdisosiasi menjadi kation garam sodium dan anion asam glutamate. Secara kimia, MSG berbentuk seperti bubuk kristal berwarn putih yang terkandung atas 78 persen asam glutamat dan 22 persen sodium dan air.

Asam glutamate yang terkandung dalam MSG tidak memiliki perbedaan dengan asam glutamate yang terkandung dalam tubuh manusia dan dalam bahan-bahan makanan alami seperti keju, ekstrak kacang kedelai dan tomat.

Dosen D4 Teknologi Laboratorium Medik (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Baterun Kunsah menjelaskan, rata- rata konsumsi MSG sekitar 0,6 g/hari atau sekitar 0,3- 1.0 g/hari di negara industri. Konsumsi tersebut bisa saja meningkat tergantung isi kandungan MSG dalam makanan dan juga tergantung pilihan rasa seseorang.

“Di MSG ada kandungan natrium. Konsumsi yang disarankan adalah 10 miligram per kilogram berat badan. Misal, berat badan 60 kilogram, kita hanya bisa konsumsi enam gram saja atau cukup satu sendok teh per hari,” ujar Kunsah, melansir dari laman resmi UM Surabaya.

Menurut Kunsah, dari hasil penelitian, MSG aman untuk dikonsumsi, bahkan oleh bayi sekalipun, namun dengan dosis yang tepat atau tidak berlebihan. Konsumsi MSG dalam jumlah tertentu dapat mengancam kesehatan pada anak.

Menteri Kesehatan sendiri sudah memberi pernyataan dan meminta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk menarik produk makanan kemasan yang tidak mencantumkan kandungan MSG atau seberapa membahayakannya bagi kesehatan manusia.

“Usia anak-anak atau masa pertumbuhan lebih sensitif terhadap efek MSG daripada kelompok dewasa. MSG juga dapat menyebabkan menurunnya fungsi otak,” tutur Kunsah.

“Semakin mudah anak mengonsumsi MSG, semakin besar bahaya yang dapat ditimbulkan MSG pada otak sehingga jangka panjang akan mengurangi kecerdasan pada anak,” katanya.

Tiga angka kejadian penurunan fungsi kognitif adalah 0,9 persen pada anak dibawah lima tahun dan 1,94 persen pada anak yang berumur 5-14 tahun. Dari hasil evaluasi langsung terhadap anak usia sekolah, angka kejadiannya 3,8 kali lebih tinggi. Selain itu juga, penggunaan berlebih MSG dapat memberikan efek sitotoksik dan menimbulkan stres oksidatif.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya