5. Taring memiliki engsel
Ular derik adalah ular solenoglif yang termasuk dalam keluarga viper, yang menjelaskan taringnya yang sangat besar. Taring jenis ini berlubang dan tajam, mirip dengan jarum suntik, dan dapat menyuntikkan racun.
Taring ini juga berengsel dan terletak rata di rahang atas ular saat mulutnya tertutup, hanya untuk muncul ke depan secara tegak lurus saat ular masuk untuk menyerang.
Ular yang berbeda menghasilkan racun yang berbeda, dan bahkan dapat bervariasi antar ular dari spesies yang sama (seperti ular derik Mojave, yang komposisi racunnya bisa sangat neurotoksik atau sangat hemoragik).
6. Lubang wajah bisa merasakan panas
Meski tidak memiliki anggota tubuh, ular derik adalah predator ulung. Hal ini sebagian disebabkan oleh lubang sensitif terhadap panas di setiap sisi kepala mereka yang membuat hewan kecil terlihat oleh ular derik bahkan dalam kegelapan total.
(Foto: Pexels)
Lubang tersebut membantu mendeteksi panas, mengirimkan saraf ke area yang sama di otak ular yang menerima impuls saraf optik sehingga ia dapat 'melihat' gambar mangsanya yang panas. Seekor hewan hanya perlu sedikit lebih hangat daripada lingkungannya untuk dapat mendeteksi panas.
Seekor ular berbisa untuk mendeteksinya dengan sukses dan menyerang dengan akurat. Seperti semua ular, ular derik memiliki organ Jacobson (juga disebut organ vomeronasal) di langit-langit mulutnya untuk mendeteksi, merasakan, dan mencium zat di udara.
7. Makan dua minggu sekali
Ular derik hanya makan saat lapar, jadi ular derik dewasa biasanya menghabiskan waktu rata-rata sekitar dua minggu di antara waktu makan.
Jumlah waktu pastinya bergantung pada seberapa besar makanan terakhir mereka. Ular derik biasanya berburu tikus, tupai, dan kelinci, tetapi mereka juga akan memakan burung jika bisa menangkapnya. Ular derik yang lebih muda cenderung makan lebih sering, hingga seminggu sekali.
(Rizka Diputra)