TIT Tar atau terapi pengaturan tulang kini semakin diminati oleh masyarakat modern. Tit Tar merupakan metode pengobatan yang mengadopsi pengobatan tradisional Tiongkok.
Senior Therapist Klinik Meditar, Krisnawan Priyanka menjelaskan metode terapi Tir Tar sendiri sama dengen kretek tulang. Cara kerjanya dengan memberikan tekanan pada sendi tulang belakang pasien dengan tangan atau alat bantu khusus.
“Terapi ini berfokus pada anggota gerak dan fungsi tubuh, seperti area leher, bahu, punggung, lutut dan engkel. Tapi kalau kita lebih fokus di bone setting,” ujar Krisnawan saat ditemui di acara Grand Opening Meditar Clinic, Kelapa Gading, baru-baru ini.
Meskipun saat ini banyak sekali terapi kretek abal, namun Tir Tar di Meditar Klinik ini cukup berbeda. Sebab tidak sembarangan orang bisa melakukan tindakan ini. Bahkan sebelum melakukan tindakan pasien harus konsultasi dahulu.
"Jadi kita akan lebih dulu konsultasi, saya sebagai terapis di sini punya ahli background medis, seperti saya punya sertifikat fisioterapi, akan dilihat apakah punya skoliosis atau saraf kejepit dari rasa nyeri dan posisi punggung pasien," kata Krisnawan.
Tak hanya itu, metode Tir Tar ini tidak dilakukan oleh semua kasus masalah tulang. Menurut Krisnawan, untuk kondisi skoliosis atau saraf kejepit dengan kondisi berat maka tindakan Tir Tar tidak bisa dilakukan.
"Kalau dari hasil pemeriksaan MRI atau rontgen di rumah sakit menunjukan ada kondisi skoliosis saraf kejepit udah berat tidak bisa. Tapi kalau ringan datang aja dulu nggak apa-apa, nanti kita cek sendiri dan kita juga nggak akan melakukan tidak kondisi tidak memungkinkan," tutur Krisnawan.
Sementara itu, Guru Besar Terapi Tradisional Tiongkok metode Tit Tar, Chris Leong menjelaskan kriteria orang yang boleh melakukan metode ini harus dalam kondisi sehat dan fit.
"Kondisinya harus fit, tidak boleh demam yang akan kelihatan dari mukanya nggak segar. Itu kita nggak bisa kita terima, karena terapi ini selain untuk memperbaiki postur tubuh, tapi juga memanfaatkan self healing agar tubuh kembali rileks," kata Chris Leong.