PENYAKIT antraks kembali menyerang warga di Gunungkidul, Yogyakarta. Kondisi ini diketahui setelah adanya laporan warga yang menjalani perawatan di RSUD akibat penyakit tersebut.
Meskipun penyakit antraks sulit dibasmi secara keseluruhan namun Dokter sekaligus Epidemiologi, dr Dicky Budiman, M.Sc. PH mengatakan masih ada upaya untuk mencegah penyakit ini semakin meluas dan menimbulkan banyak korban.
“Pertama tentu vaksinasi, vaksinasi hewan ternak terutama di daerah yang rawan antraks ini bisa membantu penyebaran penyakit. Kedua, pengelolaan bangkai hewan yang tepat ini termasuk pembakaran atau penguburan yang aman, dan ini penting untuk pencegahan penularan antar hewan dan termasuk ini orang yang melakukan yaitu petugas yang sudah terlatih,” kata dr Dicky, dikutip dari keterangannya, Sabtu (16/3/2024).
Pemantauan dapat dilakukan melalui deteksi dini. Sistem pemantauan penyakit pada hewan dan deteksi dini menjadi suatu pendekatan surveilans pada hewan dan manusia terutama di daerah yang sering terjadi wabah antraks. Sehingga upaya ini perlu diperkuat supaya cepat dan mencegah penyebarannya.
Dalam konteks penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia seperti ini, ada upaya yang disebut One Health. Upaya ini menjadi penting tidak hanya untuk dipahami, tetapi diimplementasikan dengan melakukan kolaborasi antar sektor.
“Kolaborasi antar sektor ini menggunakan pendekatan one health, jadi melakukan kerjasama antar sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Artinya kolaborasi antar sektor akan sangat penting termasuk pelibatan berbagai stakeholder lain baik dalam unsur masyarakatnya maupun pemerintah daerah,” ucap dr Dicky.
Tidak hanya itu, penguatan infrastruktur juga tidak kalah penting seperti laboratorium, tenaga medis hewan yang terlatih untuk meningkatkan dan mendeteksi pengendalian antraks. Maka dari itu, kontribusi pada masyarakat jadi literasi yang membangun kesadaran masyarakat dan ini juga menjadi bagian dari pendekatan One Health.