BELUM lama ini wabah antraks kembali terjadi di Indonesia. Wabah tersebut muncul di Gunungkidul, Yogyakarta menyusul adanya warga yang dirawat di RSUD diduga terpapar penyakit antraks.
Menyikapi kondisi itu, Dokter sekaligus Epidemiolog, dr Dicky Budiman, M.Sc. PH menjelaskan munculnya wabah antraks yang terus terjadi berulang akibat dari kurangnya pemantauan dan pengendalian wabah tersebut. Ditambah beberapa faktor pendukung membuat penyakit ini sulit untuk dibasmi sepenuhnya.
“Pertama, bahwa spora antraks itu tahan lama. Jadi bakteri antraks atau Bacillus Anthracis itu membentuk spora yang tahan lama dalam tanah, sehingga sulit untuk membasmi sepenuhnya, ini penyebab pertama dan utama,” kata dr Dicky, dikutip dari keterangan yang didapat MNC Portal Indonesia, Sabtu (16/3/2024).
Lebih lanjut, adanya spesies dari Bacillus Anthracis membuat hewan ternak dapat terinfeksi sehingga membuat pengendalian dan penyebaran dari antraks ini semakin sulit dilakukan. Untuk itu, diperlukan upaya pengendalian yang cukup kuat untuk menghambat penyebaran semakin meluas.
Dokter Dicky mengatakan penyebaran antraks dapat terjadi karena tiga kondisi mendukung. Pada kesempatan tersebut dia pun menjelaskannya satu per satu.
“Pertama lingkungan yang mendukung itu seperti tanah yang kaya akan spora Bacillus Anthracis tadi ini yang memicu wabah berulang. Kedua, praktik peternakan yang tidak tepat, tidak higienis, kurang kebersihan dalam peternakan termasuk dalam bangkai ternak yang tidak benar ini yang menjadi isu bagi banyak negara berkembang atau miskin ya termasuk Indonesia yang bisa meningkatkan risiko penyebaran antraks,” ucap dr Dicky.
Oleh karena itu, dr Dicky mengatakan sistem pemantauan dan pengendalian penyakit ini harus ditingkatkan pada level yang memadai sehingga bisa mendeteksi atau mitigasi potensi wabah.
(Leonardus Selwyn)