MASYARAKAT digegerkan dengan penemuan 4 jasad anak di dalam kamar kontrakan. Pemilik rumah yang dikontrakkan mengaku jika orangtua dari para korban dikenal tertutup. Ayah para korban berinisial P, ia disebut juga melakukan KDRT kepada istrinya.
Pemilik kontrakan, Asmaroh mengatakan, istri P diketahui tengah dalam perawatan karena KDRT berat yang diduga dilakukan oleh suaminya. "Kini istrinya sedang dirawat akibat KDRT berat."
Disebutkan P berencana bunuh diri setelah tega menghabisi keempat anaknya sendiri dan melakukan KDRT kepada istrinya.
BACA JUGA:
"Jadi waktu KDRT, pertama datang adeknya mau nganter kerja (istri pelaku) ke kantor, dipanggil nggak keluar, pas ditendang pintu, istrinya lagi digebukin Pak P," kata tetangga korban, Titin.
"Sementara untuk orang tuanya sendiri, orangtuanya yang diduga sebagai pelaku P mencoba untuk bunuh diri juga, tapi saat ini masih bisa selamat dan dirawat di RS," ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Bintoro pada wartawan, Rabu (6/12/2023).
BACA JUGA:
Lalu apa saja dampak psikologis bagi korban, akibat mengalami KDRT?
Menurut penelitian, kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena perebutan kekuasaan, uang, atau kesenangan. Perilaku seperti binatang berada di rumah kemudian menyerang pasangan. Untuk itu para korban KDRT harus berani bersuara agar keluar dari hubungan tidak sehat ini. Berikut beberapa pengaruh psikologis akibat KDRT.
1. Bekas luka
Korban kekerasan dalam rumah tangga akan merasa sulit melupakan bekas luka bahkan setelah bertahun-tahun. Ya, setelah berulang kali mengalami pelecehan, kenangan negatif dapat memengaruhi ketenangan seseorang selama bertahun-tahun. Ini merupakan hal yang menyedihkan.
2. Trauma
Orang yang dikasari pasangan mengalami trauma dalam hidupnya. Ada banyak kasus di mana korban kekerasan dalam rumah tangga menjadi tertekan dan trauma setelah menghadapi pelecehan dalam hubungan mereka.
3. Rasa sakit
Dalam kasus di mana kekerasan fisik terjadi, korban mungkin mengalami rasa sakit dan penderitaan. Dalam cedera fisik yang diderita, jiwa terdalamlah yang paling merasakan sakit. Ini merupakan alasan mengapa penting mengatakan tidak untuk kekerasan dalam rumah tangga.
4. Paranoid
Sebuah studi baru tentang paranoid mengatakan bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga umumnya cenderung menjadi paranoid. Mereka mungkin tidak pernah bisa memercayai hubungan dengan manusia lagi. Ini adalah salah satu fakta kekerasan dalam rumah tangga, demikian dilansir Boldsky.
(Dyah Ratna Meta Novia)