WAKIL Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Angela Tanoesoedibjo rupanya sangat fokus pada bonus demografi atau proporsi penduduk usia produktif 15-64 tahun yang diperkirakan mencapai 60 persen.
Dengan fenomena kebanjiran bonus demografi ini, Wamenparekraf Angela berharap, Indonesia mampu keluar dari Middle Income Trap yang masih di sekitar Gross National Income (GNI) perkapita Indonesia sebesar USD4.580.
"Sekarang puncak bonus demografi, dan ini bukan waktu yang panjang, waktu sangat pendek 7 tahun. Dengan bonus demografi seperti ini, supaya Indonesia bisa keluar dari Middle Income Trap, finally kita bisa menjadi negara maju sejajar negara-negara seperti Swiss, Australia, Jepang dan Korea," kata Angela Tanoesoedibjo dalam sambutannya pada acara Rakernas Gereja Bethel Indonesia (GBI) di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (29/11/2023).
(Foto: Selvianus/MPI)
Angela mencontohkan beberapa negara maju taraf hidupnya jauh lebih tinggi daripada Indonesia.
Bahkan dari segala lini pendapatan negara seperti aktivitas Ekspor serta inovasi teknologi jauh lebih unggul.
Adanya hal ini, dia mendorong generasi-generasi muda mampu melakukan hal-hal positif, dan mampu meningkatkan pendapatan negara, agar mampu keluar dari middle income trap.
"Kalau kita ke negara-negara itu apa yang menjadi dasar dengan negara-negara berkembang. Kalau negara maju pasti rakyatnya jauh lebih sejahtera, kualitas lebih tinggi, harapan lebih tinggi," papar Angela.
"Ekspor jauh lebih tinggi dari pada kita, inovasi teknologi luar biasa dan ini kita inginkan untuk Indonesia. Akan tetapi kehadiran bonus demografi serta merta kita langsung keluar dari Middle Income Trap makanya kalau tidak manfaatkan makanya kita akan terperangkap maka bisa jadi kita jadi negera miskin," lanjutnya.
(Foto: Selvianus/MPI)
Oleh sebab itu, Angela menekankan betul bahwa generasi-generasi muda ini perlu didorong. Pasalnya, Indonesia bisa saja terperangkap di dalam middle income trap. Bahkan dapat menjadi negara-negara miskin seperti beberapa negara di Afrika.
"Kita belum tahu dengan populasi sebesar ini, dengan keberagaman yang akan terjadi perpecahan. Karena tidak ada kesejahteraan ditengah masyarakat," sebutnya.
(Rizka Diputra)