SEJAK beberapa waktu lalu teknologi Wolbachia menjadi perbincangan hangat dan menuai pro dan kontra dari masyarakat. Salah satunya adalah masih ditemukannya kasus DBD di wilayah Yogyakarta, padahal pelepasan nyamuk berwolbachia sudah dilakukan.
Menanggapi hal tersebut, maka Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) , dr Riris Andono Ahmad, BMedSc, MPH, PhD menjelaskan teknologi Wolbachia memang tidak menyebabkan DBD akan hilang sepenuhnya, terutama di wilayah dengan mobilitas yang tinggi.
“Bisa jadi penderita DBD tersebut tertular DBD dari wilayah lain yang tidak dilepasi nyamuk ber-Wolbachia,” kata dr Riris, dikutip dalam keterangan resmi yang didapat MNC Portal Indonesia, Minggu (26/11/2023).
Akan tetapi, teknologi Wolbachia bisa mengurangi potensi penularan lokal DBD di wilayah yang telah dilepasi nyamuk berwolbachia. Hasilnya 11 tahun penelitian nyamuk berwolbachia maka menunjukkan metode ini terbukti efektif mengurangi sekitar 77 Persen kasus dengue, dan menurunkan 86 Persen insidensi perawatan di rumah sakit karena dengue.
Lantas apakah kasus ini akan sama seperti di Srilanka yang kasus DBD-nya melonjak hingga 300 Persen tiga tahun setelah menerapkan teknologi Wolbachia?
Dokter Riris menuturkan di Srilanka Wolbachia baru dilepas di wilayah dengan luas 20 km persegi, yang mana luasan tersebut tentunya tidak sebanding dengan kejadian DBD di seluruh Srilanka. Sedangkan berbeda lagi dengan Singapura, Singapura menggunakan strategi pelepasan yang berbeda dengan Yogyakarta, yaitu dengan melepas nyamuk jantan berwolbachia.
“Strategi ini bertujuan untuk menurunkan populasi nyamuk karena jika jantan berwolbachia kawin dengan betina tanpa Wolbachia, maka telur-telur yang dihasilkan tidak menetas,” ucap dr Riris.
Untuk itu, strategi ini tidak memanfaatkan kemampuan Wolbachia dalam memblok virus dengue. Karena hanya nyamuk betina lah yang menularkan virus dengue penyebab DBD.
(Leonardus Selwyn)