KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia melakukan penerapan teknologi wolbachia sebagai langkah untuk menurunkan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Kegiatan ini tentunya sudah lebih dulu dilakukan penelitian sejak 2011 oleh World Mosquito Program (WMP) dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
Atas kegiatan itu menurut salah satu Peneliti, Prof Uut mengatakan kini pendekatan wolbachia telah terbukti dapat mengurangi angka kejadian penyakit demam berdarah, dan kebutuhan rawat inap bagi penderita penyakit tersebut.
Akibatnya, penurunan ini akan berdampak kepada penghematan biaya dalam pengendalian dengue bagi negara yang menerapkannya.
“Pendekatan ini sangat efektif dalam pengendalian penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di wilayah perkotaan besar yang berpenduduk padat dan dengan tingkat insidensi dengue yang tinggi,” kata Prof Uut, dikutip dalam keterangan resmi yang didapat MNC Portal Indonesia, Sabtu 18 November 2023
Adapun Direktur Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, dr. Riris Andono Ahmad MPH, Ph.D menambahkan pada uji coba yang dilakukan nyamuk ber wolbachia pada 2011 di Yogyakarta tersebut telah terbukti dan hasilnya mengalami penurunan sebanyak 77 Persen.
“Terbukti mampu menekan kasus demam berdarah hingga 77 Persen, disamping menurunkan kebutuhan rawat inap pasien dengue di rumah sakit sebesar 86 Persen,” ucap dr Riris.
Untuk itu, selaku Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) dr Imran Pambudi menjelaskan angka kejadian DBD di Indonesia masih relatif tinggi dengan ditambah angka kematian terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak. Selain itu, masih banyak juga daerah yang melaporkan kejadian luar biasa akibat DBD.
“Ini akan menyelamatkan anak-anak kita kedepannya,” tutur dr Imran.
Tidak sampai disitu, efektifitas pemanfaatan teknologi ini juga sudah dirasakan oleh beberapa negara lainnya seperti Australia, Brazil, Colombia, El Salvador, Sri Lanka, Hondurasm Laos, Vietnam, Kiribati, Fiji, Vanuatu, New Caledonia, dan Meksiko.
Meskipun jika Singapuran teknologi ini diterapkan menggunakan metode suppression atau penurunan jumlah populasi, tetapi strategi ini diimplementasikan dengan melepaskan nyamuk jantan saja.
Atas perkawinan nyamuk jantan dengan nyamuk betina di populasinya maka tidak akan menghasilkan telur yang tidak dapat menetas. Sehingga populasi nyamuk akan mengalami pengurangan. Walaupun nyamuk betina mungkin masih ada di populasi alaminya, dan memiliki kemampuan untuk menularkan virus dengue.
Namun di sisi lain, metode susppression memberikan syarat pelepasan nyamuk ini harus dilakuan secara terus menerus oleh nyamuk jantan, agar populasi nyamuk dapat terkontrol, dengan tentunya hal ini akan membutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar dengan dampak yang bersifat sementara.
(Leonardus Selwyn)