Cerita Dokter Indonesia saat Bertugas di Gaza, Suara Pesawat Tempur Israel Jadi Penghantar Tidur

Syifa Fauziah, Jurnalis
Jum'at 10 November 2023 18:04 WIB
Kota Gaza. (Foto: BBC)
Share :

KETUA Presidium MER-C, dr Sarbini Abdul Murad menceritakan pengalamannya saat bertugas di Palestina. Kala itu dia ditunjuk untuk membuka jalur agar program MER-C bisa sampai di Palestina.

"2007 akhir saya diutus teman-teman untuk buka jalan ke Palestina. Saya berada sekitar 9 bulan merintis jalan biar bisa masuk ke palestina. Gimana bisa masuk ke Gaza? Karena selama ini hanya wacana, jadi kantor memutuskan saya yang merintis," ujar dr Sarbini dalam webinar bersama Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia pada Jumat, (10/11/2023).

Dokter Sarbini menjelaskan dia melakukan perjalanan melalui Mesir untuk menuju Gaza. Menurutnya zaman dulu lebih mudah untuk orang asing masuk ke Gaza dibanding saat ini.

"Jadi saya lebih dulu sampai di Gaza, tapi teman-teman yang lain mengalami pressure saat di perbatasan karena setiap dua kilometer ada pemeriksaan yang sangat ketat. Rombongan ini nggak bisa masuk padahal bawa banyak bantuan," jelasnya.

Akhirnya mereka tinggal di Al Haris dekat Gaza. Kemudian departemen luar negeri melakukan diskusi agar orang Indonesia bisa masuk ke Gaza.

"Akhirnya kita masuk Gaza diiringi banyak ambulan. Jadi kita konvoi nggak boleh kepisah sampai ke Rumah Sakit Al-Shifa. Ketika sampai disambut baik oleh para dokter di sana," ucapnya.

Dokter Sarbini mengatakan suasana di Gaza kala itu sampai sekarang tak berubah. Selama perjalanan ke rumah sakit dia bersama rombongan tak berhenti mendengar serangan dari Israel.

"Suara bom menggelegar, intensitas serangan dari Israel tak berubah sampai sekarang," jelasnya.

Ia mengaku saat awal-awal sampai di rumah sakit Al-Shifa, dia mendengar suara drone dan manuver pesawat tempur setiap malam yang membuatnya merasa takut.

"Awalnya mengerikan tapi 3-4 hari kok lama-lama menikmati, jadi penghantar tidur," terangnya.

Namun hal yang bikin dr Sarbini kagum adalah dengan adanya serangan tak henti dari Israel, masyarakat Gaza masih terlihat sangat tenang.

"Mereka lebih tenang menghadapi itu, mungkin karena mereka sudah terbiasa dari zaman dahulu jadi genetiknya sudah biasa dan terbawa sampai sekarang," ucapnya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya