KINI kata playing victim mungkin sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Kata satu ini biasanya merujuk pada suatu peran yang dimainkan oleh seseorang sebagai korban untuk mendapatkan perhatian atau memanipulasi suatu keadaan.
Pelaku playing victim biasanya melakukan sebuah kesalahan, namun ia tidak ingin bertanggung jawab karena sudah melakukan kesalahan tersebut. Kemudian dia menyalahkan orang lain yang dianggapnya sudah menyakitinya.
Pelaku playing victim memosisikan diri sebagai korban yang tidak mendapatkan keadilan.
Lantas, apa dampak yang bisa ditimbulkan bagi pelaku maupun obyek playing victim?
Dampak yang dirasakan sendiri oleh pelaku playing victim sendiri adalah tidak ada pembelajaran bermakna dalam menjalani kehidupan ke depannya, serta tidak ada beban mental yang dirasakan.
Pelaku playing victim akan terus dihantui rasa bersalah terhadap diri sendiri dan orang lain yang menjadi sasaran playing victim. Hal ini akan memperlambat sikap dewasa dalam diri.
BACA JUGA:
Mulai dari munculnya penyakit hati akibat selalu menuduh orang lain salah, sulit untuk mengintropeksi diri sendiri, karena hanya sibuk menunjuk orang lain yang salah dan harus bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat.
Secara psikologis, hal ini akan merusak mental diri sendiri untuk berkembang karena terbiasa dengan segala sesuatu dilempar kepada orang lain.
Selain itu pelaku playing victim akan lupa menggali potensi diri, tidak melihat sisi baik dan sisi buruk dalam diri sendiri,serta bagaimana cara mengembangkan diri sendiri.
Dalam kehidupan sosial, playing victim ini dapat berdampak tidak nyaman bagi orang lain. Orang-orang yang menjadi korban dari playing victim akan merasa tidak nyaman dan tidak adil bagi dirinya.
BACA JUGA:
Pasalnya ia terus disalahkan sementara orang yang menyalahkan tidak merasakan hal tersebut. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang berkepanjangan.