Namun pada beberapa kasus, Sinar-X pun tidak dapat menemukan fraktur. Bila ini yang terjadi, maka bisa dilakukan pemeriksaan dengan Computed Tomography Scan (CT-Scan), Magnetic Resonance Imaging (MRI), ataupun bone scan.
Namun sejatinya tulang yang mengalami patah harus diperbaiki dan dikembalikan ke posisi seharusnya. Proses ini juga dikenal dengan sebutan reduksi. Mungkin banyak yang belum tahu tindakan reduksi bisa dilakukan tanpa operasi, atau disebut reduksi tertutup.
Praktik ini umumnya dilakukan oleh dokter spesialis ortopedi (bedah tulang) atau dokter umum yang berpengalaman menggunakan obat anti nyeri atau bius.
Usai menjalani proses reduksi, posisi tulang harus dijaga agar tidak bergerak-gerak dengan menggunakan bidai. Selain itu bisa dilakukan traksi untuk mengurangi rasa nyeri.
Bila diperlukan juga dapat diberikan obat anti nyeri dan antibiotik yang bisa diberikan untuk mengurangi nyeri dan juga mencegah infeksi.
Proses penyembuhan umumnya membutuhkan waktu sekitar 6 minggu. Namun juga harus diketahui, tidak semua jenis patah tulang dapat ditangani menggunakan reduksi tertutup.
Karena juga terdapat kondisi patah tulang tipe kominutif berat yang pastinya membutuhkan reduksi terbuka atau tindakan operasi). Reduksi ini biasanya membutuhkan fiksasi internal berupa kawat, sekrup, pen, atau pelat.
Contoh penanganan tanpa operasi seperti pada fraktur kompressi tulang belakang dan patah tulang pergelangan. Hal ini membutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 minggu untuk proses penyembuhan.
Namun terdapat kelemahan dari teknik tanpa operasi ini yaitu penderita tidak dapat melakukan latihan sendi lebih awal. Sehingga timbul komplikasi mal-union dan kekakuan sendi.
(Hafid Fuad)