Melalui studi ini, peneliti mengimbau agar masyarakat harus mempertimbangkan penggunaan vape mulai dari sekarang. Jika masih ada yang beranggapan cairan vape tidak berbahaya, itu salah besar.
"Vape terbukti meningkatkan stres oksidatif dan menyebabkan perubahan morfologi pada testis," tulis peneliti dalam laporan penelitian telah diterbitkan di Revista Internacional de Andrologia.
Studi sebelumnya yang dikerjakan di Denmark juga menemukan bahwa, orang yang menghisap vape punya jumlah total sperma yang jauh lebih sedikit dibanding non-vaper.
Jurnal Life pun mengungkapkan bahwa vape berkaitan erat dengan cedera paru-paru, kesehatan mental yang buruk, hingga menghambat kesuburan. Ini membuktikan bahwa vape bukan alternatif ‘sehat’ dari rokok konvensional yang selama ini dianggap jadi pilihan lebih baik oleh masyarakat awam.
(Rizky Pradita Ananda)