DALAM memperingati Hari Kanker Paru Sedunia 2023, Yayasan Kanker Indonesia, bekerja sama dengan AstraZeneca, Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO), dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengadakan Konsensus Skrining Kanker Paru di Indonesia.
Sesuai dengan namanya, acara ini bertujuan untuk menjelaskan skrining kanker paru sebagai strategi transformasi pelayanan kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), yang berfokus pada promotif dan preventif.
Ketua Indonesian Association for the Study on Thoracic Oncology (IASTO), Prof. DR dr Elisna Syahruddin mengatakan kunci untuk mengurangi kematian akibat kanker paru di Indonesia adalah deteksi dini. Kondisi ini memungkinkan para penyedia layanan kesehatan untuk menawarkan perawatan yang paling sesuai untuk pasien.
"Dengan deteksi lebih awal, ada juga peluang penyembuhan yang lebih besar. Di Indonesia, sangat penting bahwa skrining LDCT digunakan sebagai alat skrining utama dan sinar-X dada dapat didukung oleh kecerdasan buatan," ucap Dr Elisna Syahruddin, dalam acara Konsensus Skrining Kanker Paru Indonesia di The Westin Jakarta, Rabu, 23 Agustus 2023.
"Untuk perokok aktif dan perokok pasif berusia 45–75 tahun dengan riwayat keluarga menderita kanker paru-paru, jika kita ingin segera menyelamatkan lebih banyak nyawa dari kanker paru,” tuturnya.
Adapun tujuan tes skrining kanker paru memiliki banyak manfaat. Diantaranya meliputi: