Namun, lanjut dr Dicky, penerapan WFH saja tidak cukup dan bukan jadi satu-satunya solusi. Sebab kalau bicara satu kondisi polusi udara atau pencemaran udara yang harus dilakukan bukan di kuratif dan reaktifnya. Melainkan mencari penyebab dan mengurangi risikonya.
“Dari industri gimana menggunakan teknologi ramah lingkungan, trasnportasi publik gimana memastikan mereka memulai bertahap memakai bahan bakar ramah lingkungan, kendaaraan listrik mulai dipromosikan dengan harga lebih terjangkau atau meningkatkan kualitas dan kuantitas publik yang aman nyaman dan ramah lingkungan,” paparnya.
“Nah itu yang penting yang harus dilakukan. Tidak boleh hanya mengandalkan pada strategi yang sifatnya reaktif, kalau tidak melakukan upaya meminimalisir, memitigasi kontributor dari polutan itu situasinya akan semakin buruk. orang kerja di rumah sekalipun akan sampai juga dampak polusi udaranya,” pungkasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)