SEKTOR pertambangan merupakan sumber daya alam yang berkontribusi pada pendapatan suatu daerah, salah satunya di Sulawesi Tenggara (Sultra), yang diketahui menghasilkan pertambangan nikel terbesar di Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, banyak perusahaan asing mau pun lokal yang membuka kawasan industri di daerah tersebut. Sekretaris DPW Partai Perindo Sulawesi Tenggara/Bacaleg DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara Dapil V Partai Perindo, Aryo Wira Setiawan mengaku mengapresiasi dengan kehadiran perusahaan asing di daerahnya.
Tapi di sisi lain, Aryo melihat pengalih fungsian perkebunan jadi masalah serius yang harus dipikirkan.
BACA JUGA:
"Jadi sebenarnya memang sudah ada peraturan perundang-undangan perkebunan dan pertambangan yang mengeksploitasi sumber daya alam mereka punya kewajiban mereboisasi," kata Aryo seperti dikutip dari Podcast Aksi Nyata Partai Perindo bertajuk ‘Masyarakat Lokal Menjadi Penonton, Pekerja Asing Menguasai Sulawesi Tenggara', Selasa (8/8/2023).
"Ini yang harus sama-sama harus perhatikan bagaimana proses reboisasi penghijauan di lahan yang sudah terpakai untuk perkebunan dan pertambangan bisa betul-betul bisa terimplementasi dengan baik," sambungnya.
Aryo mengakui hingga saat ini Partai Perindo belum memiliki kursi di DPR Provinsi. Sehingga, pihaknya harus bekerja keras untuk membuat regulasi seperti itu.
"Sebenarnya itu tugas kedewanan kan, jadi ketika kita terpilih, kita akan berjuang," tegas Aryo.
Pada kesempatan yang sama, Aryo menuturkan pihaknya juga akan melakukan pelatihan kepada masyarakat lokal di Sulawesi Tenggara. Pelatihan ini bertujuan, agar masyarakat lokal bisa punya kemampuan mumpuni sehingga bisa bekerja di perusahaan asing. Mengingat, sampai saat ini masih banyak perusahaan asing yang menggunakan tenaga kerja dari negaranya tanpa memperkerjakan masyarakat lokal.
"Tapi kita akui bahwa masyarakat lokal kadang memang belum memenuhi kualifikasi. Jadi kalau Partai Perindo punya kursi di DPR, kita akan memberikan pelatihan dan menambah skill masyarakat lokal agar mereka memiliki kemampuan yang dibutuhkan perusahaan," tutup Aryo.
(Rizky Pradita Ananda)