Beruntung, pengobatan pasien korban digigit kucing liar ini pun berhasil. Para ilmuwan juga memeriksa penyeka dari infeksi di jari tengah kanan pasien tersebut. Mereka menemukan organisme tak dikenal seperti bakteri Streptococcus, yang dikaitkan dengan mata merah, meningitis, dan radang tenggorokan.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa itu adalah mikroba baru yang belum pernah tercatat. Para ahli mengatakan bahwa bakteri baru itu adalah bagian dari genus bakteri gram positif yang disebut Globicatella.
“Itu adalah spesies yang berbeda dan sebelumnya tidak terdeskripsikan,” kata para peneliti di Emerging Infectious Diseases.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa kucing dapat menyebabkan luka gigitan jaringan dalam. Dijelaskan pula bahwa air liur mereka telah terdaftar berisiko infeksi sekunder yang berpotensi tinggi.
“Kucing sebagai reservoir spesies bakteri yang belum ditemukan yang memiliki potensi patogen pada manusia,” tutur mereka.
Tenaga medis pun menyarankan agar seseorang yang mengalami luka akibat digigit kucing dapat membersihkan kulit di sekitar luka dengan sabun, air atau antiseptik. Direkomendasikan pula penggunaan parasetamol atau ibuprofen untuk mengurangi rasa sakit atau pembengkakan.
(Leonardus Selwyn)