Kasus Anak Pukuli Pelajar di Ambon hingga Tewas, Ini Kata Psikolog!

Dyah Ratna Meta Novia, Jurnalis
Rabu 02 Agustus 2023 16:45 WIB
Kasus kekerasan harus dihentikan. (Foto: The conversation)
Share :

KASUS kekerasan kembali viral, baru-baru ini seseorang berinisial AT (25) diduga memukuli remaja berinisial RRS (15) hingga tewas. Hal ini terjadi lantara korban tidak menyapa sang pelaku kala lewat di hadapannya.

Masalah ini sebenarnya tidak perlu diselesaikan dengan kekerasan bahkan hingga korban tewas. Kasus kekerasan ini tidak jauh berbeda dengan Mario Dandy yang menganiaya David Ozora.

 

Kasus semacam ini menimbulkan gambaran usia muda sulit sekali menahan emosi. Apakah ada kaitannya dengan pengendalian emosi yang lemah? Atau ada faktor lainnya?

 BACA JUGA:

Ade Iva Murty selaku akademisi psikologi dari Asosiasi Psikologi Kesehatan Indonesia (AKPI) menjelaskan, peristiwa kekerasan tersebut terjadi karena pelaku tidak dapat meregulasi emosinya dengan baik. Regulasi emosi ini merupakan kemampuan seseorang dalam mengendalikan, menilai, mengelola dan mengungkapkan emosi.

“Regulasi emosi ini perlu dipelajari sejak kecil,” ucap Ade Iva Murty saat ditemui di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (2/8/2023).

 BACA JUGA:

Menurut Ade Iva, seorang anak sudah mulai meluapkan emosi dan rasa frustasi sejak usia tiga bulan, contohnya mulai merengek karena telat diberikan susu. Kemudian di usia satu sampai tiga tahun mulai tantrum. Jika semua hal tersebut dibiarkan orangtua, anak tidak paham meregulasi emosinya. Seharusnya, orangtua hadir membantu anak mempelajari regulasi emosi, bisa dengan mengajaknya mengobrol, menjadi tempat curhat, bertukar pikiran, dan lainnya.

Namun, selain regulasi emosi, seseorang yang mudah marah serta melakukan kekerasan memiliki kecenderungan agresi.

“Agresi adalah segala sesuatu yang kita lakukan yang memang dasarnya untuk menyakiti, merusak, dan menghancurkan orang lain. Wujudnya dalam bentuk kekerasan, bisa verbal seperti sindiran hingga hujatan. Adapun kekerasan lain dalam bentuk fisik seperti memukul,” tutur Ade Iva.

“Istilahnya kalau kita tidak suka dengan orang lain, maka kita akan menyakitinya,” imbuhnya.

Keadaan agresi ini tergambar jelas dalam kasus kekerasan pelajar di Ambon. Pelaku melayangkan pukulan sebagai bentuk balasan kekesalannya karena korban tidak menyapa dirinya.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita Women lainnya