BANYAK orang mengira epilepsi (ayan) dan kejang-kejang adalah penyakit yang sama. Namun tahukah Anda, bahwa keduanya berbeda meskipun gejalanya hampir serupa sehingga bagi yang awam sulit membedakannya.
Lantas, apa yang membedakan antara ayan dan kejang-kejang?
Sebab hal ini kerap terjadi kepada anak-anak disertai dengan demam atau suhu panas yang tinggi.
1. Ayan (epilepsi)
Perlu diketahui, bahwa ayan adalah gangguan sistem saraf pusat akibat aktivitas listrik otak yang tiba-tiba dan berlebihan (tidak normal), sehingga timbul perilaku kejang seperti gangguan pada pergerakan, sensasi, hilangnya kesadaran secara berulang dan spontan.
Spesialis Saraf dr. Arie Khairani Sp.S mengatakan, gejala kejang yang dikaitkan dengan epilepsi, yaitu apabila terjadi dua episode dalam interval lebih dari 24 jam.
"Dan tidak disebabkan oleh faktor pencetus yang langsung," katanya dikutip dari channel Youtube Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.
Ia juga menjelaskan, bahwa epilepsi bukanlah kondisi yang jarang ditemui. Lalu penyebab kejang dan epilepsi bisa juga dipengaruhi oleh faktor usia. Di mana terdapat juga riwayat penyakit lainnya seperti stroke baik sumbatan maupun pendarahan, jadi penyebab yang cukup sering dialami.
BACA JUGA:
2. Kejang
Sementara itu untuk kejang yang juga disertai demam, terjadi karena terkena penyakit infeksi seperti flu, pilek, infeksi telinga. Hal tersebut juga biasanya terjadi pada anak, khususnya berusia 18 bulan sampai 5 tahun.
Menurut dokter Arie, kejang demam dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kemudian pada kasus kejang demam sederhana, kejang berlangsung seluruh tubuh dengan durasi sebentar, kurang lebih 15 menit.
Lebih lanjut, kejang jenis ini tidak akan berulang dalam satu hari atau waktu 24 jam. Sementara pada kejang demam kompleks, biasanya terjadi hanya satu sisi tubuh yang bergerak dengan durasi lebih dari 15 menit.
"Serta bisa terjadi lebih dari sekali dalam sehari," terangnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)