MENTERI Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno membentuk strategi khusus untuk mengembangkan wisata megalitikum Tanah Air, yang dinilainya memiliki potensi daya tarik minat wisatawan yang besar.
“Situs-situs megalitikum ini adalah warisan budaya masa lalu yang memiliki potensi yang sangat besar, dan saya sudah melihat di beberapa tempat bisa menjadi obyek wisata warisan budaya,” kata Sandiaga seperti dilansir dari ANTARA, Rabu (5/7/2023).
Wisata megalitikum merupakan kawasan yang menyimpan peninggalan-peninggalan dengan nilai sejarah tinggi.
Sandiaga mengatakan beberapa lokasi seperti perkampungan megalitikum di Flores, Gunung Padang di Cianjur, dan Pokekea di Taman Nasional Lore Lindu akan menjadi wisata megalitikum potensial tinggi selain Kubur Batu.
Salah satu strategi untuk mengembangkan situs-situs peninggalan tersebut, kata Sandiaga, adalah dengan storynomics tourism, sebuah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, serta kultur hidup menggunakan kekuatan budaya sebagai darah daging sebuah destinasi.
BACA JUGA:
“Jadi kami strateginya adalah mengemas sumber daya situs obyek ini dengan sebuah cerita, storynomics, yang terdiversifikasi dari satu destinasi ke destinasi lainnya, dan memiliki diferensiasi sehingga penempatan dari produk wisata budayanya ini bisa kita arahkan ke target pasar yang tepat,” imbuhnya.
Sandiaga menyebutkan bahwa pengemasan wisata megalitikum harus diperkuat dengan pembentukan ekosistem wisata lain yang terkait, seperti desa wisata dan taman bumi (geopark) yang ada di sekitaran situs peninggalan.
Mereka kemudian bersumpah tak akan kembali ke tanah air mereka, kemudian membakar kapal tongkang tersebut dan menetap hingga sekarang diwilayah Kabupaten Rokan Hilir tersebut.
Festival bakar tongkang ini dirayakan tiap tahun pada hari ke- 16 bulan ke- 5 berdasarkan kalender tahunan Tiongkok, tradisi ini pula yang disebut Go Gek Cap Lak( dari kata Go berarti 5 serta Cap Lak yang berarti ke- 16) disorot dengan aksi simbolis membakar replika kapal
tradisional Cina selaku puncak festival.
Prosesi pembakaran diawali dengan menetapkan posisi haluan tongkang sesuai petunjuk Dewa Kie Ong Ya atau Dewa laut. Kemudian
diletakkan pada posisi pembakaran dan kertas sembahyang dan ditimbun dekat lambung kapal yang siap untuk dibakar.
Dengan adanya acara ini, juga menjadi salah satu bentuk untuk mempromosikan pariwisata dan budaya daerah kepada wisatawan yang datang
berkunjung.
(Salman Mardira)