Tujuannya agar tim peneliti bisa mengukur gelombang otak, selain memantau kadar oksigen dalam darah, detak jantung, pernapasan, gerakan mata dan kaki, serta fungsi kognitif.
Hasilnya menunjukkan, orang yang didiagnosis sleep apnea parah menjadi kurang sadar, kurang fokus, punya masalah memori jangka pendek dan ketidakmampuan untuk memenuhi target dalam kehidupan sehari-hari. Sementara, kelompok orang dengan sleep apnea yang lebih ringan terlihat punya fungsi kognitif yang lebih besar.
Peneliti menilai, hasil tersebut bisa disebabkan karena beberapa faktor. Meliputi rendahnya oksigen dan tingginya kadar karbon dioksida dalam darah, perubahan aliran darah ke otak, dan peradangan di otak. Semua ini, disebut menyebabkan perubahan neuroanatomis dan struktural yang meluas di otak dan defisit kognitif dan emosional fungsional yang terkait.
“Interaksi yang kompleks ini masih kurang dipahami, tetapi kemungkinan besar hal ini menyebabkan terjadinya perubahan neuroanatomis dan struktural yang meluas di otak dan defisit kognitif dan emosional fungsional yang terkait,” jelas Dr. Ivana Rosenzweig, Neuropsikiater sekaligus penulis utama studi.
(Rizky Pradita Ananda)