PEMATANG Siantar merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara. Kota ini hanya berjarak 128 kilometer dari Medan dan sering menjadi kota perlintasan bagi wisatawan yang hendak ke Danau Toba.
Tentunya Anda sudah tak asing lagi dengan kuliner seperti mie gomak, atau roti ketawa, tak hanya terkenal dengan kulinernya yang lezat, Kota Pematang Siantar juga memiliki banyak tempat wisata alam yang indah dan selalu menjadi tujuan para wisatawan saat bertandang ke Kota Pematang Siantar.
Sejarah Kota Pematang Siantar
Pematang Siantar biasanya disebut juga dengan nama Siantar, atau dengan penulisan (Pematangsiantar) merupakan kota terbesar kedua setelah Medan, di Sumatera Utara.
Nama kota ini terdiri dari dua kata, yaitu Pematang dan Siantar. Nama Siantar atau Siattar ini masih memiliki keterkaitan dengan kerajaan di Simalungun, yang dikenal dengan nama Raja Jumorlang dan Datu Bolon.
Mengutip laman pematangsiantar.go.id, sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Pematangsiantar memiliki sistem pemerintahan berupa kerajaan yang berkedudukan di Pulau Holing.
Raja terakhir dari dinasti ini adalah keturunan marga Damanik yaitu Tuan Sang Nawaluh Damanik yang memegang kekuasaan sebagai raja pada tahun 1906.
Di sekitar Pulau Holing kemudian berkembang menjadi perkampungan tempat tinggal penduduk, di antaranya Kampung Suhi Haluan, Siantar Bayu, Suhi Kahean, Pantoan, Suhi Bah Bosar, dan Tomuan. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi daerah hukum Kota Pematangsiantar yaitu:
Pulau Holing menjadi Kampung Pematang Siantar, Bayu menjadi Kampung Pusat Kota Suhi Kahean menjadi Kampung Sipinggol-pinggol, Kampung Melayu, Martoba, Sukadame, dan Bane. Suhi Bah Bosar menjadi Kampung Kristen, Karo, Tomuan, Pantoan, Toba dan Martimbang.
Masa pendudukan Belanda
Dengan masuknya Belanda di daerah Simalungun, Sumatera Utara pada tahun 1907 berakhirlah kekuasaan raja-raja.
Controleur Belanda yang semula berkedudukan di Perdagangan, pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar.
Sejak itu Pematangsiantar berkembang menjadi daerah yang banyak dikunjungi oleh pendatang baru. Bangsa Cina mendiami kawasan Timbang Galung dan Kampung Melayu.