"Kemudian takut ke dokter kasih tahu sakitnya kebanyakan ke alternatif dulu, akhirnya datang ke pusat kesehatan sudah terlambat 10 sampai 60% datangnya terlambat. Jadi bisa dibayangkan, kenapa the middle income countries seperti Indonesia ini angka harapan hidupnya rendah cuma 20% karena begitu," katanya.
Terkait pengobatan kanker dengan BPJS, dr Teny mengatakan ini sesuai dengan WHO yang menyebut negara harus selalu siap menyediakan pengobatan bagi penderita kanker. Sehingga setiap penderita kanker, termasuk anak-anak mendapatkan hak untuk akses dan pelayanan kesehatan.
"Iya dong kalau nggak gimana pasien-pasien ini berobat. Malah WHO ini juga mengatakan bahwa negara harus menanggung. Artinya, bahwa anak-anak ini mempunyai hak akses kesehatan untuk mendapatkan kesembuhan," jelas dr Teny.
(Martin Bagya Kertiyasa)