Ada juga yang berpendapat bahwa frasa tersebut sedikit banyak identik dengan kebiasaan masyarakat Medan, yang kerap acuh terhadap peraturan lintas.
Di beberapa bagian kota, para pengendara motor yang menerobos lampu merah sudah biasa. Begitu pun dengan sopir angkot yang kadang berhenti mendadak di tengah jalan.
Namun, pemaknaan frasa tersebut tidak bisa disamaratakan di setiap wilayah Medan, karena punya konotasi yang berbeda-beda.
Medan hakikatnya tidaklah sekacau itu. Pada periode awal kemerdekaan, di mana banyak daerah masih meraba-raba sistem Pancasila yang egaliter, Medan sudah tampil sebagai kota yang identik dengan rasa egaliter tersebut.
Karakter egaliter inilah yang memunculkan sapaan khas, seperti bung, coy, lae, dan eda tadi.
(Salman Mardira)