Pemerintah tengah gencar mendorong masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi protein hewani, salah satunya ikan untuk mencegah stunting.
Daripada ikan, jika dibandingkan dengan sumber protein lain seperti daging ayam atau daging sapi, ikan memang bukan pilihan yang populer. Terutama bagi anak-anak atau orang dewasa muda.
Menurut Innes Rahmania, Pembina Hasil Kelautan dan Perikanan Ahli Utama Kementerian Kelautan dan Perikanan, kurangnya konsumsi daging ikan ini diketahui karena masyarakat masih percaya mitos yang masih berlaku yaitu 'Ojo Mangan Iwak Akeh-akeh Iso Cacingan'. Hal ini ia ketahui, setelah berdiskusi dengan berbagai budayawan.
Kenapa ikan tidak populer atau kurang diminati? Ada omongan (mitos) gitu "Ojo Mangan Iwak Akeh-akeh Iso Cacingan'. Artinya, jangan makan ikan banyak-banyak nanti cacingan. padahal ikan bagus," ujar Innes kala ditemui dalam acara di Jakarta, Kamis (26/1/2023).
Ternyata mitos lama yang dinilai tak benar ini, juga berlaku pada ibu menyusui. Beredar mitos bahwa makan ikan bisa menyebabkan bau amis sampai cacingan.
BACA JUGA: 5 Bahaya Hobi Makan Gorengan, Salah Satunya Kena Stroke!
BACA JUGA:Sering Susah Tidur, Konsumsi 4 Makanan Ini Yuk!
Innes berharap agar mindset di masyarakat berubah, karena ikan sejatinya memberikan manfaat baik untuk kesehatan. Sebagaimana diketahui, protein hewani berperan penting dalam mencegah stunting.
"Terus juga ada isu-isu kalau ikan itu bisa sebabkan amis, cacingan, buat ibu menyusui. Ini kayal enggak usah makan ikan biar enggak pintar. Harapannya supaya bisa ini mindset berubah," jelas Innes.
Sebagai tambahan informasi, berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan pada statistik.kkp.go.id, pada tahun 2021, dari sekian banyak Provinsi di Indonesia, tercatat Provinsi Maluku menduduki peringkat pertama Angka Konsumsi Ikan (AKI) tertinggi dengan nilai 77,49 kg/kapita/tahun.
Kemudian, posisi kedua ditempati Maluku Utara dengan rata-rata konsumsi ikan sebesar 75,75 kg/kapita/tahun. Setelahnya ada Kalimantan Utara dengan rata-rata konsumsi ikan mencapai 73,94 kg/kapita/tahun, dan ketiga di Kepulauan Riau sebesar 71,61 kg/kapita/tahun.
(Rizky Pradita Ananda)