SETELAH menuai protes besar-besaran dari masyarakatnya, China pada Desember 2022 akhirnya melonggarkan aturan lockdown terkait Covid-19.
Namun saat ini, China diketahui tengah mengalami lonjakan infeksi, dengan ditambah kecemasan semakin melonjaknya kasus selama liburan Tahun Baru Imlek pada Januari 2023.
Murray dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), pusat penelitian kesehatan global independen di University of Washington menilai kebijakan zero Covid China mungkin efektif untuk mencegah varian Covid-19 sebelumnya, tapi tidak dengan Omicron.
“Tetapi penularan varian Omicron yang tinggi, membuat target kebijakan untuk zero Covid-19 ini tak lagi relevan, tak bisa dipertahankan,” ujar Murray.
IMHE sendiri baru-baru ini mengambil data dan informasi Provinsi dari wabah Omicron di Hong Kong, untuk melihat kondisi pandemi di China.
“China sejak wabah Wuhan yang asli hampir tidak melaporkan kematian. Itulah mengapa kami melihat (data) di Hong Kong untuk mendapatkan gambaran tentang tingkat kematian akibat infeksi,” kata Murray lagi.
Untuk perkiraannya, IHME juga menggunakan informasi tentang tingkat vaksinasi yang diberikan oleh pemerintah China, dan ditambah dengan asumsi tentang bagaimana berbagai Provinsi di China akan merespons ketika tingkat kasus infeksi meningkat.
Pakar lain memperkirakan sekitar 60 persen populasi penduduk China pada akhirnya akan terinfeksi, dengan puncaknya diperkirakan pada bulan Januari dan yang paling parah menyerang populasi yang rentan, seperti orang tua dan orang dengana penyakit penyerta (komorbid).
Kekhawatiran utama ini, termasuk banyaknya kelompok masyarakat rentan di China, vaksin yang kurang efektif, dan cakupan vaksinasi lansia yang masih rendah.