Maka dari itu, demi menyelamatkan nyawa anak-anak. Penyediaan obat jadi satu-satunya cara menyelamatkan nyawa para pasien gangguan ginjal akut berusia 0 bulan hingga 18 tahun tersebut.
"Kami bisa saja menunggu untuk sampai ketemu penyebab pasti, tapi waktu berjalan terus dan perlu keputusan yang cepat dengan informasi terbatas,” tutur Menkes Budi,
“Kami memilih untuk datangkan Fomepizole dan ternyata berdampak positif. Angka kematian menurun, dan jumlah pasien di rumah sakit berkurang karena pasien kondisinya membaik," jelas Menkes panjang lebar.
Sekali lagi, ia menekankan keputusan cepat untuk mendatangkan obat Fomepizole ini, murni untuk menyelamatkan nyawa anak-anak yang terserang gagal ginjal akut tersebut.
BACA JUGA:Menkes Buka-bukaan Asal Muasal Stok Obat Fomepizole untuk Pasien Gangguan Ginjal Akut
"Jadi, kami datangkan obat ini semata-mata untuk menyelamatkan anak Indonesia, tidak ada niat untuk bisnis obat.
Ketika sudah tak dibutuhkan lagi oleh para pasien gangguan ginjal akut, karena sudah banyak yang sembuh. Menkes Budi mengatakan kemungkinan vial obat Fomepizole yang sudah ada akan disimpan menjadi cadangan karena tidak diberikan ke pasien.
(Rizky Pradita Ananda)