Setelah melihat ada dampak positif yang ditunjukkan para pasien, barulah Kemenkes yakin menambah jumlah stok obat.
“Baru dari sana, kami coba hubungi beberapa negara lain. Ternyata kami dapat gratis dari Australia sebanyak 16 vial dan yang terbaru 200 vial ini dari Jepang," lanjutnya.
Terkait isu apakah ada indikasi bisnis obat, dibalik kedatangan obat Fomepizole dalam waktu singkat ketika kasus gangguan ginjal akut ini merebak. Menkes menegaskan, tindakan sigap yang ia lakukan semata-mata hanya untuk menyelamatkan nyawa anak-anak Indonesia, agar angka kematian jangan sampai bertambah terus setiap harinya.
“Jadi, kami datangkan obat ini semata-mata untuk menyelamatkan anak Indonesia, tidak ada niat untuk bisnis obat," tambah Menkes Budi.
Sebagai informasi, saat ini stok cadangan Fomepizole sejumlah 150 vial dirasa sudah cukup.
“Kita masih memiliki cadangan sampai 150 anak lagi. Mudah-mudahan dengan menurunnya kasus, karena mereka tidak mengonsumsi obat-obatan yang mengandung senyawa kimia berbahaya tersebut,” tutupnya.
(Rizky Pradita Ananda)