Sebagai contoh, jika di RSCM sebanyak 10 pasien yang masih dirawat intensif, maka 10 vial perlu didistribusikan ke rumah sakit ini.
"Nah, sisanya didistribusikan secara merata ke rumah sakit rujukan lainnya. Sesuai dengan kebutuhan. Jadi, ketersediaan obat juga harus fleksibel, dipengaruhi salah satunya oleh faktor kenaikan jumlah kasus di rumah sakit rujukan," tambahnya.
Dicky melanjutkan, menurut informasi yang diterimanya, selanjutnya masih akan datang lagi obat Fomepizole dari Amerika Serikat. Namun ia belum mengetahui, berapa vial yang akan masuk.
Ia menekankan sekali lagi, diharapkan sekali Kemenkes bisa mendistribusikan obat penawar tersebut secara merata. Salah satunya juga dengan menimbang faktor risiko, adanya peluang terjadinya penambahan jumlah kasus ke depannya.
"Potensi penambahan jumlah kasus masih ada , karena kita tidak tahu di daerah itu datanya tercover atau tidak secara real time oleh Kemenkes. Sehingga, menyediakan obat dalam jumlah tertentu dibutuhkan sebagai langkah antisipasi (jika ada penambahan jumlah kasus), " tandas Dicky.
BACA JUGA:Menkes Sebut Kasus Gangguan Ginjal Akut Turun Drastis, Pakar Kesehatan Pertanyakan Soal Data?
BACA JUGA:Benarkah Fomepizole Efektif Obati Pasien Gangguan Ginjal Akut? Ini kata Kemenkes!
(Rizky Pradita Ananda)