Kisah Anak Mantan Wapres Amerika Hilang Misterius di Pedalaman Papua

Andini Putri Nurazizah, Jurnalis
Jum'at 28 Oktober 2022 13:00 WIB
Michael Clark Rockefeller hilang misterius di Papua (Foto: Smithsonian/Getty Images)
Share :

KISAH hilangnya Michael Clark Rockefeller di pedalaman Papua sangat mengguncang dunia. Bagaimana tidak? setelah puluhan tahun, keberadaannya hingga kini masih menjadi misteri.

Sebagian besar orang mulai berteori dengan apa yang terjadi pada Clark. Ada yang bilang ia tewas tenggelam karena kelelahan berenang ke tepi pantai, dimangsa binatang buas, hingga dugaan korban kanibalisme.

Siapa Michael Clark Rockefeller?

Menurut berbagai sumber, Clark yang lahir pada 18 Mei 1983, merupakan seorang anak dari wakil presiden Amerika Serikat kala itu, Nelson Aldrich Rockefeller yang menjabat pada 1974-1977. Ia menjadi generasi keempat dari keluarga Rockefeller yang terpandang dan terkaya kala itu, termasuk ahli waris raksasa industri minyak Standard Oil.

Menempuh berbagai pendidikan, ia bersekolah di The Buckley School, New York, kemudian Akademi Phillips Exeter di New Hampshire. Lalu melanjutkan pendidikan tinggi di kampus terpandang, Universitas Harvard, dan lulus dengan predikat cumlaude atau kehormatan.

Selama kuliah Clark tergabung dalam ekspedisi Museum Arkeologi dan Etnologi Peabody Harvard, untuk mempelajari antropologi Suku Dani di Lembah Baliem, Papua. Dari situlah jiwa petualangnya muncul, bahkan ia menjadi seorang kolektor seni dan fotografer yang cukup baik.

"Dia berusia 23 tahun, putra istimewa Gubernur New York Nelson Rockefeller, tujuh bulan dalam petualangan seumur hidup yang telah mengubahnya dari siswa yang rapi menjadi fotografer dan kolektor seni," kata Carl Hoffman dalam artikel berjudul What Really Happened to Michael Rockefeller yang diterbitkan Smithsonian seperti dikutip dari Sindonews, Jumat (28/10/2022).

Penyebab Hilangnya Michael Clark Rockefeller

Peristiwa itu terjadi pada 17 November 1961, saat Clark bersama antropolog Belanda, Dr Rene Wassing yang kala itu ditunjuk langsung pemerintah Belanda untuk menemaninya, sedang menuju lokasi suku Asmat dengan menaiki perahu.

Dalam perjalan tersebut mereka tidak sendiri, ada dua remaja putra Asmat bernama Simon dan Leo yang ada di sana untuk membantu menjalankan perahu yang mereka tumpangi. 

Sejatinya kedatangan Clark kala itu ke Papua bukan merupakan pengalaman yang pertama. Sebelumnya pada Maret 1961, ia mengikuti ekspedisi untuk mempelajari antropologi Suku Dani di Lembah Baliem, Papua. Dari sinilah, cerita mengenai suku Asmat yang terkenal dengan seni ukir sampai ke telinga Clark.

Mereka berempat tidak ada yang menyangka jika apa yang mereka lakukan kala itu menjadi sebuah peristiwa yang sangat menggemparkan dunia sampai saat ini. Padahal tujuan mereka kala itu hanya ingin mempelajari lebih dalam mengenai suku Asmat.

Selama satu hari perjalanan tepatnya pada 18 November 1961, mereka berempat sampai di muara Sungai Pulau yang yang dekat dengan laut Arafura. Diketahui tempat ini akan sangat berbahaya pada bulan November, karena angin kencang dan arus yang deras.

 Sayangnya hari itu angin bertiup sangat kencang dan arus sungai yang luar biasa deras. Gelombang besar menghantam perahu, dan membawa mereka terombang-ambing dari sungai menuju laut. Simon dan Leo pun melompat ke laut untuk berenang mencari bantuan ke tepi pantai.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya