PENYAKIT gangguan ginjal akut anak yang saat ini masih misterius hingga memicu para orangtua merasa cemas. Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) pun menyarankan perlu adanya penelitian komprehensif.
Hal tersebut disampaikan oleh Dekan Farmasi ITB Profesor I Ketut Adnyana. Ia juga sudah melakukan komunikasi bersama para praktisi dan pihak terkait.
Baca juga: 5 Fungsi Penting Ginjal untuk Kesehatan Bisa Produksi Darah Hingga Kotoran Asam
"Saya sudah bergerak dengan ikatan IAI dan LSM dan praktisi sudah mengeluarkan surat edaran termasuk infografis terkait kejadian ini. Bagaimana menyikapinya dan solusinya," ungkap Prof Ketut dalam acara Polemik MNC Trijaya bertajuk 'Misteri Gagal Ginjal Akut' di kanal YouTube MNC Trijaya, Sabtu (22/10/2022).
Ia menambahkan bahwa badan pengawas makanan dan obat (BPOM) perlu melakukan evaluasi dengan adanya kasus ini. Di mana BPOM berperan sebagai pengawas dalam produk makanan dan obat-obatan.
Baca juga: Ada 102 Obat Cair yang Diduga Mengandung EG dan DEG!
"Nah ini menurut saya seperti yang disampaikan oleh Prof Keri tadi perlu penelitian yang komprehensif pakar kita, baik itu dari AIA, kedokteran, maupun epidemiolog," jelasnya.
"Untuk bahas kondisi gangguan ginjal akut pada anak dan ini jadi pembelajaran dan kenyataan bahwa sektoral dan masyarakat serta berkaitan produk berkualitas dari BPOM. Juga Kemenkes bagaimana pola-pola hidup yang perlu diterapkan pada terjadinya (gangguan ginjal akut)," imbuh Prof Ketut.
Sehubungan dengan ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sudah lebih dari 50 persen kasus anak dinyatakan meninggal dunia.
Dalam penjelasannya, 50 persen tersebut dari 241 kasus, sekira 133 anak meninggal dunia. Namun untuk penyebabnya belum dapat dipastikan karena masih diselidiki.
"Lanjutan dari dua hari yang lalu update mengenai kasus ginjal akut sampai sekarang, sudah mengidentifikasi ada 241 kasus gangguan akut atau aki. Dengan 133 kematian dan ini terjadi peningkatan sejak Agustus," ungkap Menkes Budi dalam Konferensi Pers Update Gangguan Ginjal Akut Anak di Indonesia di Gedung Kementerian Kesehatan, Jumat 21 Oktober 2022.
(Hantoro)