Meskipun hanya dengan ekstraksi yang rendah, namun, jumlah tersebut cukup untuk menyelidiki nenek moyang manusia Sulawesi. Genetik yang ada dalam DNA Besse ternyata lebih mirip dengan susunan genetik orang-orang asli Australia dan Papua.
“Kerangka tersebut ternyata mengandung DNA yang berbeda dengan DNA manusia purba yang selama ini kita pahami sebagai asal-usul manusia di wilayah Indonesia. Ilmu pengetahuan menyebut manusia Indonesia berasal dari dua asal-usul, yaitu Afrika dan Taiwan. Temuan DNA Denisovan membuktikan bahwa ada asal-usul ketiga,” ungkap Akin Duli, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.
Adanya penemuan kerangka ini memberi pandangan sekilas bagi para arkeolog tentang pemukim paling awal yang meninggalkan daratan Asia, dan memulai perjalannya ke New Guinea dan Australia.
“Para pemburu-pengumpul pelaut ini adalah penghuni paling awal Sahul, benua super yang muncul selama Pleistosen (zaman es), ketika permukaan laut global turun, memperlihatkan jembatan darat antara Australia dan New Guinea,” jelas arkeolog Adam Brumm dari Griffith University.
Dosen Arkeologi Universitas Hasanuddin, Iwan Sumatri mengatakan dalam perspektif yang berbeda, penemuan tersebut memperlihatkan tidak ada satupun yang berhak mengklaim sebagai pemilik atau penduduk asli Indonesia.
Selain temuan kerangka Besse, di gua Paningnge terdapat pula ratusan artefak batu, mikrolit, alat serpih, mata panah, hingga lancipan tulang. Dan yang tidak kalah mengagumkan adalah adanya tulang rahang manusia dengan gigi depan geraham yang masih menempel.
Iwan mengusulkan agar Universitas Hasanuddin membentuk Center for Wallace Studies untuk mengkaji lebih lanjut secara sistematis kekayaan peninggalan prasejarah di wilayah Maros, Pangkep, dan Kawasan sekitarnya, mengingat karst ini menyimpan kekayaan peradaban kuno.
(Salman Mardira)