PENURUNAN kelahiran atau "resesi seks" terjadi di China berimbas pada penurunan ekonomi negara tersebut. Hal ini diungkap oleh Presiden Xi Jinping dalam pidato Pembukaan Kongres Partai Komunis. Dikutip dari Reuters, saat ini pemerintah tengah berupaya membuat peraturan yang akan membuat populasi di China kembali meningkat.
Diketahui kondisi populasi di China beberapa tahun terakhir cukup mengkhawatirkan. Penurunan terbesar dimulai saat pandemi Covid-19 berlangsung. Banyak masyarakat yang memilih untuk tidak menikah dan tidak mempunyai anak di masa sekarang. Hal ini dikarenakan biaya hidup yang tinggi di negara tersebut.
Dikutip dari Reuters, Senin (17/10/2022), populasi China melambat secara signifikan dan diperkirakan mulai menyusut menjelang 2025. Data kelahiran yang dirilis Minggu malam menunjukkan, jumlah kelahiran baru pada 2021 merupakan yang terendah dalam beberapa dekade di beberapa provinsi.
Perubahan undang-undang China tahun lalu untuk mengizinkan perempuan memiliki tiga anak tidak membantu, dengan banyak perempuan mengatakan perubahan itu datang terlambat dan mereka tidak memiliki jaminan pekerjaan dan kesetaraan gender yang memadai.
Dikutip SupChina, penurunan besar dalam tingkat kelahiran yakni jumlah total kelahiran pada 2021 adalah 10,62 juta, turun 1,38 juta dibandingkan dengan 2020. Dari 2017 hingga 2021, jumlah kelahiran di beberapa tempat di China dengan populasi besar seperti Henan, Shandong, Hunan, Jiangxi, Shandong, Anhui, dan provinsi serta wilayah lainnya turun lebih dari 40%.
Sementara itu, penurunan kesediaan wanita melahirkan anak menurut data Komisi Kesehatan Nasional juga ikut menurun. Rasio rata-rata wanita usia subur yang ingin melahirkan anak menurun dari 1,73 pada 2019 menjadi 1,64 pada 2021. Di antara wanita yang lahir setelah 1990 dan 2000, rata-rata bahkan lebih rendah pada 1,54 dan 1,48, masing-masing.
(Vivin Lizetha)