PANDEMI Covid-19 yang sudah berjalan hampir tiga tahun belum juga usai, ancaman pandemi baru telah kembali mengintai.
Ancaman baru ini, datang dari Asia Selatan, India dengan kasus kejadian bakteri kebal antibiotik. Kejadian ini bahkan disebut sebagai 'pandemic superbugs', ketika bakteri luar biasa itu tidak mempan dilawan dengan antibiotik.
Fenomena tersebut langsung mendapat perhatian Ahli Kesehatan Profesor Zubairi Djoerban. Dia bahkan mengatakan bahwa kejadian ini bisa dikatakan sebagai pandemi.
"Jadi, telah terjadi pandemic of antibiotic-resistant superbugs," ungkap Prof Zubairi Djoerban dikutip dari akun Twitter pribadinya, @ProfesorZubairi, Kamis (13/10/2022).
Dalam utasan yang ia buat, ahli kesehatan yang juga merupakan Ketua Satgas Covid-19 IDI tersebut menjelaskan pandemi bakteri kebal antibiotik ini dimulai dari kawasan India sebelah Barat, di satu rumah sakit berlokasi di Maharashtra yang melaporkan kejadian tak biasa.
Disebutkan, di rumah sakit tersebut, para dokter berjibaku mengatasi ruam infeksi superbug yang kebal antibiotik. Bahkan di Kolkata, 6 dari 10 orang pasien yang dirawat di ICU sudah tidak mempan antibiotik. Kuman yang terdeteksi, disebut Prof. Zubairi jenisnya bermacam-macam.
"Kumannya macam-macam, ada yang disebut Staphylococcus aureus dan Acinetobacter baumannii yang keduanya menyebabkan pneumonia. Efeknya terhadap pasien, ya, harus dipasang ventilator dan berisiko meninggal," paparnya.
Selain itu, ada juga bakteri e.coli (Escherichia coli) dan Klebsiella pneumoniae. Imbas dari serangan dua bakteri tersebut, pasien harus dipasang ventilator untuk membantu sistem pernapasannya.
Parahnya lagi, di beberapa kasus di India didapati pasien resisten terhadap antibiotik yang kuat dan yang baru bernama Carbapenem. Data menunjukkan, dalam setahun terakhir telah terjadi kenaikan 10 persen yang resisten dan ini masalah berat di dunia, khususnya di India.
"Beratnya bagaimana? Sebut saja di Kolkata. Tadinya semua orang yang terinfeksi di sana 65 persen berhasil diatasi dengan antibiotik lini 1. Nah, sekarang persentasenya turun, yang berhasil diobati dengan antibiotik lini 1 cuma 43 persen. Jadi, ini masalah serius,” peringatan dari Prof. Zubairi
Prof Beri menjelaskan, resistensi antibiotik ini sebetulnya masalah natural. Artinya, bakteri kan yang pada dasarnya ingin hidup dan berkembang, sehingga membuat dirinya menjadi resisten terhadap antibiotik.
Namun, menjadi masalah besar ketika angka kejadiannya amat dipercepat oleh salah guna antibiotik. Salah guna ini adalah antibiotik digunakan tidak pada tempatnya atau dipakai sembarangan.
"Misalnya infeksi virus, tapi dikasihnya antibiotik. Pada awal pandemi Covid-19, banyak sekali pasien mendapat antibiotik macam-macam yang menyebabkan perubahan dalam resistensi kuman," ungkapnya.
Gegara tubuh resisten antibiotik, dampaknya pasien bisa menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit lalu biaya pasien menjadi bertambah dan angka kematian juga menjadi lebih tinggi.
"Resistensi antibiotik ini bisa terjadi di mana pun. Bisa terjadi di India, Amerika Serikat, Indonesia, dan ke siapa saja. Tidak tergantung usia. Contohnya di India tadi. Artinya, dari bayi baru lahir sampai lanjut usia, ya, berisiko resisten antibiotik," paparnya.
Sebagai imbauan yang patut diperhatikan, ia memberi pesan bahwa masyarakat harus begitu berhati-hati dalam menggunakan antibiotik. Jika memang tak ada indikasi dan resep dari dokter, sebaiknya tidak dikonsumsi.
BACA JUGA:3 Bakteri Penyebab Penyakit Kelamin, Awas Bisa Menular
BACA JUGA:Kasus Gagal Ginjal Akut pada Anak Mencapai 131 Orang, Ini Gejalanya dari Hari ke Hari!
"Atau, jangan juga melanjutkan resep antibiotik milik salah seorang teman atau keluarga, karena merasa punya penyakit yang sama," tegas Prof Zubairi.
(Rizky Pradita Ananda)