Pesona Klenteng Gondomanan Yogyakarta, Dibangun Tahun 1846 Loh!

Ainun Nadjib, Jurnalis
Kamis 08 September 2022 13:03 WIB
Klenteng Gondomanan (dok Kemdikbud)
Share :

Dua patung naga itu bertengger di bubungan atapnya. Kedua patung naga itu saling berhadapan.

Dua naga itu masing-masing berpose membuka mulut sambil mengangkat ekor tegak lurus ke atas sambil menatap tajam pada mutiara api yang berada di tengah keduanya.

Nama Fuk Ling Miau berasal dari tiga suku kata yaitu 'Miau' berarti kelenteng, 'Fuk' maknanya berkah, dan 'Ling' artinya tak terhingga.

Jadi 'Fuk Ling Miau' dapat dimaknai sebuah kelenteng penuh berkah yang tak terhingga.

Uniknya kelenteng yang berada Jalan Brigjen Katamso No 3, Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Yogyakarta terbagi menjadi dua tempat peribadatan.

Pertama, Vihara Budha Prabha pada bagian belakang untuk umat Budha. Sedangakan bagian depan terdapat kelenteng Gondomanan untuk umat Kong hu Cu. Kelenteng ini berada

di bawah naungan Majelis Buddhayana Indonesia dengan nama Vihara Buddha Prabha Gondomanan.

Bangunan Fuk Ling Miau menjadi cagar budaya pada tanggal 26 Maret 2007 di bawah Surat Perintah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No PM25/PW.007/MKP/2007.

Kelenteng Gondomanan menjadi warisan budaya Yogyakarta kategori tempat ibadah (15 April 1999) dari 10 bangunan cagar budaya Yogyakarta.

Tanah tempat didirikan kelenteng ini konon berasal dari keraton Yogyakarta.

Saat itu pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, warga Tionghoa meminta izin mendirikan tempat ibadah.

Selanjutnya pada tanggal 15 Agustus 1900 Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menghibahkan tanah seluas 1150 m2.

Atas usaha Mayor Tionghoa bernama Yap Ping Liem, di atas tanah tersebut didirikan Kelenteng Fuk Ling Miau.

(Kurniawati Hasjanah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya