"Akhir-akhir ini kemenkes sudah banyak melakukan perbaikan, bukan bentuk sirup, tapi bentuk granol. Fasilitasi dari kemenkes sudah membaik, meskipun kami masih memerlukan lebih banyak ragam obat ARV untuk anak karena virus ini cepat bermutasi," jelasnya.
Dr. Edah juga menambahkan, setiap pengobatannya tergantung pasien atau orang dewasa yang merawat pasien HIV. Dalam beberapa kasus, ada anak yang orang tuanya sudah meninggal, kemudian diasuh oleh neneknya. Hal ini menyebabkan keterlambatan untuk kontrol, lost to follow up. Kondisi ini akan mengakibatkan sang anak mengalami gagal terapi.
(vvn)
(Kemas Irawan Nurrachman)