ALASAN mengapa status janda di Indonesia selalu dipandang sebelah mata akan dibahas pada artikel kali ini. Janda merupakan sebutan bagi seorang perempuan yang telah berpisah dengan suami.
Perpisahan tersebut bisa disebabkan karena kematian ataupun cerai hidup. Kasus cerai hidup di Indonesia pun kian meningkat tiap tahun, itu berarti jumlah janda pun kian meningkat.
BACA JUGA:Kisah Sarah Moza, Janda Pangandaran yang Dinikahi Pria Arab Saudi
Meski perpisahan hubungan pernikahan akan memberikan label janda dan duda, mengapa hanya janda yang dipandang sebelah mata? Simak alasan mengapa status janda di Indonesia selalu dipandang sebelah mata berikut ini.
Alasan Mengapa Status Janda di Indonesia Selalu Dipandang Sebelah Mata
Jika anda sejak kecil hidup di Indonesia, pasti anda tidak asing dengan status dan konotasi perempuan yang menyandang status janda. Seorang perempuan yang dilabeli janda biasanya dianggap sebelah mata dan ditempatkan di posisi yang rendah.
Alasanya karena stereotip masyarakat terhadap status janda membuat para perempuan yang menyandang status ini seringkali tidak menerima keadilan. Meski zaman semakin maju dan pendidikan kian merata, namun pandangan masyarakat Indonesia terhadap status janda belum banyak berubah.
Janda dianggap sebagai seorang perempuan yang lemah, tidak berdaya, problematik, dan haus akan kasih sayang. Selentingan akan hal ini kerap ditemui di berbagai bahan candaan, lagu, hingga film.
Dari selentingan tersebut tak jarang membuat seorang janda dijadikan sebagai bahan pergunjingan dan kambing hitam atas kandasnya hubungan orang lain.
Padahal, status janda bukanlah sebuah cita-cita atau impian. Bisa dijamin, tak ada seorang perempuan pun yang menginginkan menyandang status janda.
Banyak wanita yang berstatus janda menuturkan bahwa menjadi janda bukanlah hal yang mudah. Meski hidup dengan baik dan lurus, stigma masyarakat terhadap status ini tidak bisa dihilangkan dengan mudah.
Jadi pada intinya, alasan mengapa status janda di Indonesia selalu dipandang sebelah mata adalah karena stereotip masyarakat yang masih negatif akan status tersebut.
(Salman Mardira)