Alasan utama bentuk evolusi itu, termasuk reposisi Saccorhytus pada pohon kehidupan Kambrium, agar lubang yang mengelilingi mulutnya ditafsirkan sebagai pori-pori untuk insang—ini merupakan salah satu keunggulan deuterostom.
Ketika para ilmuwan menggunakan sinar-X yang kuat untuk memeriksa lebih detail makhluk seukuran 1 milimeter ini, mereka menyadari bahwa lubang ini sebenarnya adalah pangkal duri yang patah.
Para ilmuwan yang mempelajari fosil-fosil ini mencoba untuk menempatkan setiap hewan di pohon kehidupan. Cara ini memungkinkan mereka membangun gambaran untuk memahami dari mana Saccorhytus berasal dan bagaimana mereka berevolusi.
"Saccorhytus akan hidup di lautan dan sedimen. Duri menahan mereka tetap berada di tempatnya," kata Carlisle, periset yang berbasis di University of Bristol.
"Binatang purba ini, menurut kami, hanya duduk di lokasi itu, di lingkungan yang sangat aneh dengan banyak hewan yang akan terlihat seperti beberapa makhluk hidup hari ini, tapi banyak yang tampak benar-benar asing."
Batuan yang mengandung fosil Kambrium ini masih dipelajari.
"Ada begitu banyak yang masih bisa kita pelajari tentang lingkungannya," ujar Carlisle.
"Semakin saya mempelajari paleontologi, semakin saya menyadari betapa banyak yang hilang. Dalam hal konteks Saccorhytus dan tempat tinggalnya, kita benar-benar baru melihat puncak gunung esnya," ucapnya.
Anda dapat mendengar lebih banyak cerita sains dalam program di Inside Science melalui laman BBC Sounds
(Salman Mardira)