Kemudian, saat tukang perabot yang asal nyelonong naik masuk ke dalam ruangan Saung Ranggon. Di dalam ruangan itu dia bahkan membuka kelambu atau tirai berisi guci dan benda pusaka.
”Saya lagi ada tamu dan ngantar ke atas, ketika tamu turun dia naik ke atas dan membuka sembarang, tiba-tiba mental sampai bawah. Saya tanya kenapa dia bilang minta maaf, katanya melihat pria berjanggut panjang sedang bersila,” ujarnya.
Tak hanya itu, dalam Saung Ranggon, terdapat sejumlah benda pusaka peninggalan para wali benda-benda itu berupa keris dan belati. Terdapat pula guci berisi air yang hanya bisa di lihat pada waktu-waktu tertentu.
Area luar Saung Ranggon di kelilingi pagar berwarna hijau, untuk masuk ke dalamnya harus menaiki tujuh buah anak tangga di pintu utamanya. Dalam Saung Ranggon itu terdapat ruangan seluas 1 X 2 meter yang ditutup pakai tirai.
Saat masuk terlihat ada foto Nyi Roro Kidul, Wali Songo, dan Presiden Soekarno dalam bingkai di dalam ruangan yang minim pencahayaan tersebut. Ada juga sajadah maupun perangkat alat salat seperti mukena dan sarung, di sekeliling tiap jendala juga ditutupi tirai.
Di samping Saung Ranggon terdapat musala kecil yang terbuat dari kayu dan bambu. Di samping pintu masuk ada gentong atau guci berisi air. Usai berkunjung, warga diwajibkan mencuci muka. Sementara di depan Saung Ranggon terdapat sebuah rumah.
Di area itu juga terdapat sebuah sumur yang memiliki usia sama dengan saung. Ada hal wajib yang harus dikerjakan oleh pengurus atau juru kunci di Saung Ranggon ini. Seperti, mencuci seluruh pusaka yang ada di Saung Ranggon saat Maulid Nabi. Harus juga diadakan seni tradisional, seperti Tari Jaipong juga ada lagu-lagu wajib yang harus dinyanyikan.
"Semua itu harus, kalau tidak dijalankan pasti dari keluarga kita kena (kesurupan) atau ada saja yang kena masalah,” tuturnya.
(Kurniawati Hasjanah)