Cerita Pendaki Bertahan Hidup saat Hilang di Gunung Lawu, Nekat Tidur di Kandang Babi Hutan

Ahmad Antoni, Jurnalis
Kamis 11 Agustus 2022 12:30 WIB
Michael Erik pendaki Gunung Lawu yang sempat hilang (dok Pribadi)
Share :

Kemudian melanjutkan perjalanan pada Minggu pukul 07.00 WIB. Erick dan rekannya mencapai puncak Harjo Dumilah pukul 08.40 WIB. Anggota Kompass itu turun sekitar pukul 10.00 WIB.

Mereka sampai pos 4 sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, Erick mendahului rekan lain yang sedang beristirahat. Teman-temannya sampai Cemoro Kandang pukul 13.30 WIB, namun Erick belum sampai. Sehingga teman-temannya melaporkan kehilangan.

“Ketika di perjalanan di Gunung Lawu didampingi oleh burung jalak lawu (jalak gading). Teman saya bercerita mitosnya burung itu susah untuk diabadikan atau difoto,” ujar Erick.

“Ketika perjalanan pulang saya coba foto burung tersebut karena penasaran. Akhirnya saya arahkan rombongan untuk lewat jalan yang benar. Saya turun ke sungai untuk foto burung jalak itu kemudian saya dapat foto, tapi saya berdiri di atas ranting yang di bawahnya sungai terjal akhirnya saya jatuh,” ujarnya.

Karyawan Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) itu mengungkapkan saat jatuh sempat tertahan di kayu pohon yang tumbang. Namun dia tak bisa naik ke atas karena terjal. Dia pun mulai bertahan hidup dengan membuat rumah dari dedaunan.

“Saat itu burung masih di depan saya. Karena mitosnya burung tersebut sakral sebagai pengantar rombongan orang keraton kalau ziarah ke puncak Gunung Lawu. Kemudian di situ saya bertahan hidup, saya membuat api ditutupi dengan daun mentah, biar ada kepulan asap,” kata pria kelahiran 29 Mei 1996 ini.

Menurutnya, dalam ilmu pencinta alam membuat api adalah biar membuat jiwa lebih tenang. Selain itu dirinya juga mencari tumbuhan pakis untuk dimakan. Yang bikin merinding, dia mengungkapkan sempat melihat benda aneh pada malam hari.

“Pas malam hari saya melihat ada kalau orang Jawa bilangnya banaspati, ternyata cahaya itu terbang. Jadi waktu itu belum paham kalau itu makhluk gaib. Akhirnya pagi hari saya jalan menyusuri sungai, di situ ketemu banyak buah-buahan, seperti strawberry dan anggur hutan saya kumpulin buat pas istirahat dimakan,” katanya.

Ketika ‘menginap’ di hutan, dirinya tidur di semak-semak. “Saat itu saya ketemu sarang hewan buas kayaknya harimau karena ada bekas kakinya, ada tulang hewan. Di situ saya lari langsung naik memanjat tanah tebing, terus ketemu kayak lapangan bola.

Hari kedua saya tidur di tempatnya babi hutan,” ujarnya. Dia mengatakan, intinya pada saat tersesat sebenarnya masih bisa bertahan. tapi yang paling tinggi hasrat untuk bunuh diri itu tinggi karena depresi.

“Jadi ketika menemukan tebing kan dalam kondisi capek, di situ timbul pemikiran mending lompat saja. Kebanyakan orang kalau pendaki tersesat bunuh diri karena depresi. Tapi di situ aku alihkan pikiran akhirnya tetap jalan terus,” katanya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya