Hasilnya? Kelompok orang yang mendapat vitamin D, 769 dari 12.927 (6 persen) peserta tetap mengalami patah tulang, dan kelompok yang menerima plasebo, 782 dari 12.944 di antaranya juga mengalami patah tulang atau setara juga dengan 6 persen. Kebanyakan patah tulang yang dialami terjadi pada area panggul, pergelangan tangan, pinggul dan di daerah lain.
Dokter Meryl LeBoff, ahli kesehatan tulang yang memimpin penelitian, menyebutkan merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan, terlihat bahwa suplemen vitamin D3 tidak cukup berpengaruh pada risiko patah tulang
“Suplemen vitamin D3 tidak membuat risiko patah tulang jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan plasebo di antara orang dewasa paruh baya dan orang dewasa yang umumnya sehat.' tulis Dr. Meryl LeBoff.
Temuan di atas, didukung juga oleh hasil temuan yang ditulis Dr. Steven Cummings, ahli osteoporosis terkemuka di University of California, San Fransisco, yang mengatakan bahwa masyarakat dan harus menghentikan anggapan bahwa suplemen vitamin D saja sudah cukup bisa mencegah patah tulang.
“Layanan kesehatan harus berhenti merekomendasikan suplemen vitamin D, dan orang harus berhenti mengonsumsi suplemen vitamin D untuk mencegah penyakit utama mereka atau demi untuk memperpanjang hidup,” katanya.
Sebagai informasi, penelitian ini merupakan penelitian terkontrol acak besar pertama yang menyelidiki efek konsumsi suplemen vitamin D.
BACA JUGA:Studi: Infeksi Covid-19 Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes Tipe 2
BACA JUGA:Studi: Disfungsi Ereksi hingga Rambut Rontok Termasuk Gejala Long Covid
(Rizky Pradita Ananda)