"Dan selama status yang panjang itu, saya telah melupakan banyak proses dan karya seni yang kami rencanakan untuk dipamerkan. Jadi ini adalah momen penting untuk menemukan kembali, mengenang, dan menghidupkan kembali karya-karya yang telah saya lakukan, seperti bertemu seorang teman lama," lanjut Suwage.
Lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 14 April 1959, Suwage memulai kariernya sebagai desainer grafis, di mana ia belajar disiplin dan lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung (ITB). Karya-karyanya telah dipamerkan di seluruh Indonesia dan luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, India, Meksiko, Belanda, dan Jerman.
Sepanjang kariernya, ia konsisten menggali cerita bertema identitas serta wacana sosial-politik dan budaya pada masanya.
Karya Agus Suwage
Saat memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disambut dengan instalasi bergaya monumen yang terdiri dari lebih dari seribu botol bir kaca berwarna hijau dengan sosok kerangka bersayap emas mengenakan sorban serta memegang pedang bertengger di atasnya.
Karya berjudul 'Monumen yang Menjaga Hankamnas' (2012) merupakan sebuah parodi dari individu-individu yang haus kekuasaan, sekaligus kritik terhadap aib otoriter dan intoleransi. Meskipun reformasi sedang berlangsung, Suwage berpendapat bahwa toleransi masih merupakan konsep yang dibuat-buat yang harus diperjuangkan.
Karya-karya Suwage dalam pameran ini memang terlihat suram, terselubung dalam humor dan visualisasi gelap, tidak sopan namun tetap dengan kritik diri dan ironi.
Karya tersebut diam-diam memancarkan emosi pedih dari perjalanannya dan kebenaran pahit yang telah dia saksikan sepanjang hidup.
Karya lainnya berjudul 'Daughters of Democracy' (1996) adalah tiga lukisan menggambarkan wajah aneh dengan latar belakang hutan gundul. Lukisan tersebut diciptakan setelah kelahiran putrinya pada 1996, saat suasana di Jakarta meresahkan.
Melalui karya itu, Suwage bersimpati dengan pemberontakan dan protes mahasiswa yang meletus di Jakarta. Ia menggunakan karya ini untuk memberi penghormatan kepada mereka sebagai simbol harapan bagi generasi dan demokrasi baru.
(Rizka Diputra)