SAAT ini rumah sakit spesialis semakin mudah ditemukan. Kita cukup familiar dengan rumah sakit spesialis jantung, kanker, bahkan otak. Tak hanya itu, rumah sakit spesialis tulang pun kini ada.
Keberadaan rumah sakit spesialis mungkin membuat Anda bertanya-tanya, apakah memang ketika berobat di sana penanganan masalah bisa lebih detail dan menjanjikan kesembuhan? Benarkah rumah sakit spesialis beda penanganannya dengan rumah sakit umum atau general hospital?
Secara sederhana, Ahli Kesehatan Tulang ALTY Orthopaedic Hospital Prof Ruslan Nazaruddin Simanjuntak menjelaskan, rumah sakit spesialis merupakan rumah sakit yang memang secara khusus menangani penyakit tertentu.
Misal rumah sakit spesialis tulang, di sana akan ada penanganan untuk penyakit tulang belakang, sendi, atau masalah tulang lainnya. Meskipun pada beberapa rumah sakit spesialis pun tetap punya ICU untuk penanganan darurat dan cepat.
"Kalau rumah sakit spesialis itu biasanya akan melibatkan ahli-ahli di bidangnya yang sudah punya pengalaman banyak. Selain itu, alat dan teknologi yang dipakai pun biasanya lebih up-to-date dibandingkan rumah sakit umum," papar Prof Ruslan saat diwawancarai langsung di Grand Opening ALTY Orthopaedic Hospital, Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (7/7/2022).
Adanya teknologi mutakhir di rumah sakit spesialis, dikatakan Prof Rusli, karena pihak rumah sakit spesialis mampu menyediakan alat tersebut. Ini terjadi karena dana yang dimiliki rumah sakit spesialis memang difokuskan pada penanganan penyakit khusus tersebut.
"Beda dengan rumah sakit umum yang mana mungkin pengeluaran dananya harus dipertimbangkan dengan adil dan bijaksana. Artinya, tidak bisa satu penyakit akan sangat lengkap fasilitas pengobatannya, sedangkan penyakit lain alat dan teknologi yang dipakai biasa saja," ungkap Prof Ruslan.
ALTY Orthopaedic Hospital sendiri kini memiliki beberapa teknologi yang cukup canggih untuk menunjang pengobatan pasien ortopedi, salah satunya adalah the weight - bearing MRI atau MRI berdiri. Alat ini memungkinkan pasien tidak harus masuk ke 'lorong' untuk MRI yang bagi pasien obesitas kerap tidak mumpuni.
Selain itu, 'standing MRI' ini juga memungkinkan ahli menilai kondisi pasien saat tiduran dan berdiri yang mana itu penting diketahui pada penanganan masalah tulang. Sebab, kondisi tulang pasien saat tidur dan berdiri berbeda.
Lebih lanjut, dijelaskan Prof Ruslan bahwa ahli atau dokter yang terlibat di rumah sakit spesialis itu bekerja satu tim. Dengan begitu, jika pasien memerlukan penanganan dari dokter lain, misal pasien tulang belakang punya komorbid darah tinggi, maka dokter yang dilibatkan tak hanya dokter tulangnya saja melainkan dokter penyakit dalam pun akan ditambahkan.
BACA JUGA:Daftar Rumah Sakit Uji Coba Penghapusan Kelas Rawat Inap BPJS Kesehatan
"Bekerja sebagai satu tim akan menciptakan treatment yang holistik pada pasien. Ini pun bisa meningkatkan kesembuhan pasien, bahkan bisa meminimalisir efek samping dari tindakan operasi yang mungkin dilakukan ke pasien," tambahnya.
Dengan ketersediaan alat, teknologi mutakhir, ahli yang bekerja secara tim, hingga pengalaman ahli yang sudah tak bisa diragukan, karena biasanya ahli yang bekerja di rumah sakit spesialis itu sudah praktik di atas 20 tahun, sambung Prof Ruslan, harapan kesembuhan pada pasien bisa lebih tinggi.
Kesembuhan pasien bisa lebih mungkin dicapai pun karena antrean pasien untuk mendapat terapi khusus, misal pemeriksaan penunjang dengan MRI atau imaging lainnya, tidak begitu panjang.
"Tak sama dengan rumah sakit general yang satu pasien saja bisa menunggu dapat jatah MRI amat lama, di rumah sakit spesialis pasien bisa lebih cepat dapat penanganan karena antrean tidak panjang dan ini bisa menaikkan harapan kesembuhan bagi pasien," tambah Eng Aik Meng selaku Group Chief Executive Officer TE Asia Healthcare Partners.
(Dyah Ratna Meta Novia)